Gembrungan Masih Tetap Bertahan

Gembrungan Masih Tetap Bertahan

Comments Off on Gembrungan Masih Tetap Bertahan
Gembrungan demikian istilahnya masyarakat menyebut. Musik ini adalah sebuah musik perkusi. Sebetulnya gembrungan tak ubahnya dengan perkusi lain yang beredar di Kota Ponorogo. Yakni cara memukulnya menggunakan tangan pada alat tersebut.
Alat musik Gembrung adalah suatu alat musik yang terbuat dari kayu dan kulit. Masyarakat menyebut terbang. Terbang dalam Gembrung ada 3 buah dengan diameter yang berbeda beda. Satu Terbang besar yang berfungsi sebagai bas. Ukurannya sekisar diameter 60-70. Sedang Terbang kecil diameter sekitar 40 cm dan terbang sedang sekitar 50 an. Ditambah satu buah kendang panjang.
“Bahkan kalau  ada yang beberapa kelompok Gembrung yang memiliki terbang besar, diameternya lebih dari 1 meter,” Ujar Choirul Anam, penggerak Gembrungan Dadapan Pulung.
Musik Gembrungan ini merupakan sebuah perkusi yang digunakan untuk mengiringi sholawat. Banyak yang menyebut musik ini berkembang pada era 1700 an atau saat Kiai Ageng Muhammad Besari Tegal Sari. Maka tak heran, bila gembrungan banyak berkembang di wilayah sekitar Tegal Sari. Seperti di Demangan, Tegalsari, Jetis, Kradenan, Joresan, Sambit, Bungkal.
“Di Wilayah tersebut bila bulan Maulid masih banyak yang mementaskan Gembrungan,” tambah Choirul Anam.
Sholawatan Gembrungan Tetap Bergeliat
Sayup sayup dari kejauhan terdengar, suara musik, Brung, brangbrung, pak dung dung, brung… Musik sholawatan ini yang barangkali orang mengatakan namanya Gembrung. Disela sela musik ada tembang tembang sholawat berbahasa Arab tapi tidak begitu jelas dengan vokal cenderung bernada tinggi.
“Dalam vokal Gembrung kita mengenal dua nada. Yaitu ngelik atau tinggi dan nglegana atau rendah,” terang Choirul Anam.
Dengan musik perkusi tradisional dan vokal yang pelan meninggi ini menyebabkan anak muda enggan untuk menyukai Gembrungan. Karena selain irama yang khas tradisional dan vokal yang cengkok monoton, anak muda memilih musik yang condong bercorak lain. Yakni vokal yang lentur dan musik dengan nada gembira.
“Dalam sholawatan kita kenal, Banjari atau habsi,” ujar Anam nama panggilan Choirul Anam. Meski begitu, gembrungan tetap bertahan. Bahkan kini di Pulung, anak anak muda banyak yang ikut berkumpul dan sholawatan bareng dengan terbang Gembrung.
“Meski awalnya hanya ikut ikutan, tapi lama kelamaan mereka banyak yang tertarik,” terang Anam.
Bahkan kini Sholawat Terbang Gembrung di Dadapan Pulung telah terbentuk kumpulan Arisan dengan anggotanya dari kalangan anak muda hingga orang tua.
“Setelah arisan diundi, baru diadakan Gembrungan secara bersama. Dan ini kesempatan anak muda berlatih,” terang Anam. (kominfo)
Please follow and like us:
0

About the author:

Back to Top