Sabung Bebas Seni Pencak Dor

Sabung Bebas Seni Pencak Dor

Comments Off on Sabung Bebas Seni Pencak Dor

Sabung Bebas Seni Pencak Dor (Kominfo/Jgo)

Ponorogo – Sabung Bebas atau Tarung Bebas adalah kata lain yang di kenalkan di Ponorogo. Kegiatan ini sebenarnya adalah istilah dari Pencak Dor yang beredar di Kediri. Seni Pencak Dor, adalah sebuah pertarungan para Pendekar silat. Seni ini mulai dikenal masyarakat sejak tahun 1960an yang bermula dari Pesantren Lirboyo Kediri.

“sebetulnya kesenian Pencak Dor, adalah pertarungan antara pendekar silat. Yang didirikan oleh KH. Maksum Jauhari (Gus Maksum), dari Lirboyo,” ujar Ardi Furqon salah satu pesilat dari Pencak Silat NU Pagar Nusa.
Gus Maksum selain beliau terkenal sebagai Kiai Pimpinan Pondok Pesantren Lirboyo dengan karomah karomahnya, beliau juga salah satu pendiri organisasi Pencak Silat, Gasmi. Sebuah Organisasi Pencak di bawah Binaan Nahdlatul Ulama. Tahun 1960an, Kediri sangat keruh dengan ulah pemuda. Tak sedikit para pemuda kediri sering tawur di jalanan. Hal ini mengakibatkan ketidaknyamanan masyarakat saat itu.
Sebagai Kiai yang berpengaruh di Kediri, Gus Maksum tampil dengan memberi ajang, pertarungan bagi para muda dan Pendekar Silat di kediri. Yaitu arena pencak silat Bebas, yang kemudian terkenal dengan istilah Pencak Dor.
“Karena dalam pertarungan diiringi musik dan jedor, maka disebut Pencak Dor,” ujar Ardi Furqon yang hadir di acara Sabung Bebas di Jalen Balong,  Minggu, (06/08) di Jalen Balong.
Ajang tarung para Pendekar dalam Pencak Dor, ini memang beda dengan kejuaraan pencak yang ada. Selain aturan yang minim, hanya tak boleh memukul dan menendang kemaluan, juga tidak boleh menggunakan ajian azimat dan senjata, di arena Pencak Dor, pendekar tidak di mendapatkan trophy atau kejuaraan.
“Acara ini murni persahabatan, selain bebas tukar ilmu dan teknis juga dapat nasi pelangan, hahaha,” ujar Ardi Furqon di sambut tawa.
Kalau kejuaraan Pencak di Indonesia umumnya ada matras sebagai lantai dan arena kejuaraan dibuat melingkar, Pencak Dor lantainya papan diatas panggung terbuka. Pagar pembatas agar peserta tidak terpental keluar bukan tali tapi bambu. Dengan arena pertarungannya di buat persegi dengan luas berkisar 5 x 8 m.
Meski pertarungan Bebas, Pencak Dor juga tetap mengutamakan keselamatan para pesilat yang ikut pertarungan. 2-3 orang wasit memimpin pertarungan.
“Wasit sudah berpengalaman. Maka mereka tahu kapan pertarungan harus dihentikan,” ujar Ardi Furqon.
“Pada Pencak Dor, siapapun boleh ikut tarung. Baik itu Pendekar dari berbagai perguran silat juga tukang becak atau kuli boleh naik arena,” terang Ardy Furqon.
Pencak Dor ini mulai dikenalkan di Ponorogo, di tahun 1971 an. Yang kali pertama di kembangkan di Ponpes Al Bukhori Sampung.
“Karena Mbah Mukrim (Kiai Mukrim) selain pesilat beliau adalah santri dari Gus Maksum,” ujar Ardi Furqon.
Dalam perkembangannya Sabung Bebas atau Pencak Dor di Ponorogo sudah digemari. Banyak pendekar dari berbagai Perguruan Pencak Silat berdatangan. Bahkan tidak sedikit delegasi para santri dari Ponpes luar kota yang mengajarkan pencak silat di Pondok juga menyertakan santrinya untuk ikut sabung bebas.
Dalam Pencak Dor, selain ada aturan dikenal moto yang harus dipegang oleh para Pesilat yang ikut. Motonya adalah,”Di Atas Lawan, Di Bawah Kawan”.
“Moto ini memiliki arti pertarungan atau perkelahian hanya ada di Panggung. Setelah di bawah panggung kita adalah saudara,” tegas Ardi Furqon.(Kominfo/Jgo)
Please follow and like us:
0

About the author:

Back to Top