Sholawat Jalanan

Sholawat Jalanan

No Comments on Sholawat Jalanan

Kesenian Gajah-gajahan Doc: Nanang Diyanto/Kompasiana

Ponorogo – Seni gajah gajahan adalah kesenian asli Ponorogo. Kesenian ini merupakan salah satu seni rakyat yang bergerak, seperti reyog dan diarak dijalan- jalan. Maka banyak yang mengatakan bahwa seni gajah-gajahan juga merupakan salah satu seni obyogan. Artinya dalam pementasan seni gajah-gajahan dikerumuni oleh orang banyak. Sehingga seni satu ini memiliki kemiripan dengan seni reyog yang juga berasal dari Ponorogo.

Perbedaannya, kalau sebagai tanda gung dari gong besar dalam seni gajah gajahan dengan bedug atau jedor. Selain itu seni gajah gajahan menembangkan lagu lagu sholawat memuji pada Kanjeng Nabi.

Selain itu seni gajah gajahan membutuhkan penunggang. Kalau pada jaman dulu penunggang adalah seorang anak kecil yang bergerak atraktif dan berani.

“Penunggang harus lincah dan berani menari,” ujar Kiban salah satu tokoh penggerak seni gajah gajahan Desa Tugu Mlarak Ponorogo.

Namun seiring perkembangan, seni gajah gajahan biasa ditunggangi seorang wanita yang berbusana mirip dengan penari jathilan.

“Selain itu, musiknya tidak melulu kompang bedug, tapi sudah dicampur saron dan demung,” terang Kiban.

Seni ini dilahirkan pada jaman 1965 an. Kelahiran seni gajah gajahan adalah sebagai penyeimbang dari reyog. Karena seni gajah- gajahan merupakan suatu bentuk seni kreasi, maka tidak ada pakem tertentu seperti reyog. Sehingga tidak ada keharusan berseragam dan lainnya.

“Tapi karena di Ponorogo sebagaian besar pengiring berpakaian warok,” terang Kiban.
Penunggang, pun tidak harus memakai busana jathil, bahkan biasanya anak kecil yang berbusana, ala panglima islam dan sebagainya.

“Biasanya diperagakan oleh anak anak usia belasan tahun,” terang Kiban.
Seni gajah gajahan dimaksud, adalah, patung gajah yang terbuat dari gedeg dan dibukus kain, berwarna hitam atau coklat.

Dalam permainanya, patung ini di mainkan oleh 2 orang pemikul yang masuk. Satu orang di depan dan satu orang dibelakang.

“Karena pemikul tidak bisa melihat jalan terbungkus kain, maka diperlukan 2 orang penuntun atau sratinya. Sehingga jalannya tidak menabrak nabrak.

Iringan yang dipakai dalam musik gajah berirama gembira atau pembangkit semangat. Dengan demikian maka bila mendengar musik iringan gajah gajahan banyak orang berdatangan. (kominfo)

Please follow and like us:
0

About the author:

Alamat

themecircle

Tentang Ponorogo

Back to Top