Siswa SD Banaran Masih Harus Belajar di Masjid dan Rumah Warga

Siswa SD Banaran Masih Harus Belajar di Masjid dan Rumah Warga

No Comments on Siswa SD Banaran Masih Harus Belajar di Masjid dan Rumah Warga

Suasana belajar di salahsatu rumah warga

PONOROGO, (PULUNG) – Bencana tanah longsor dahsyat yang menimpa desa Banaran kecamatan Pulung, selain mengakibatkan banyak korban jiwa dan rumah rusak, juga menimbulkan beberapa dampak lainnya. Seperti aktifitas belajar mengajar siswa, khususnya siswa SDN1 Banaran Pulung. Dimana sejak beberapa hari sebelum longsor terjadi, hingga kini hampir tiga munggu usai kejadian, mereka harus sekolah di tempat darurat sementara.
Awak media Kominfo yang menyempatkan datang ke lokasi bencana tanah longsor, secara khusus mencari dan melihat lokasi tempat belajar darurat para siswa SDN 1 Banaran itu. Yang saat ini cukup memprihatinkan  karena harus menempati sebuah masjid dan rumah warga. Rabu (19/04)

Susasana belajar di masjid

 

Dimana siswa kelas satu hingga kelas lima harus berkumpul jadi satu di lokasi masjid :Ibadussolihin” dusun Krajan Banaran. Hanya kelas enam atau kelas akhir yang terpaksa disendirikan lokasinya. Di sebuah rumah dekat masjid tersebut.
Masjid yang dipakai kegiatan belajar mengajar ratusan siswa itupun hanya bagian dalam yang bisa dipakai. Karena bagian luar dan teras, penuh sesak untuk menampung bantuan logistik korban bencana tanah longsor banaran.
“Saat mulai disuruh mengungsi,   kita sudah pindah belajar mengajarnya di masjid ini sampai peristiwa longsor terjadi. Kemudian usai longsor susulan Minggu 7 April itu, kawasan sekolah kita malah dinyatakan sebagai zona merah rawan longsor,” terang Sukarti, Kepala SDN 1 Banaran Pulung.
“Usai longsor susulan kita sempat libur mulai Senin hingga Jumat. Sabtunya mulai masuk walau belum semua masuk. Masih di masjid dan rumah warga ini sejak Sabtu hingga saat ini,” tambah Kepala sekolah.
Ia juga bisa menerangkan bahwa pihaknya bisa mengerti jika selalu saja ada siswa yang tidak masuk sekolah. Semua itu menurutnya karena memang kondisi yang sedemikian rupa genting.
Dilanjutkannya bahwa bencana tanah longsor ini benar-benar mengganggu aktivitas para siswa. “Hari-hari normal kita putuskan jam 11 sudah pulang untuk semua siswa. Tapi jika cuaca mendung atau mulai hujan, maka siswa kita pulangkan jam 10 pagi,” terangnya lagi.
Ditambahkannya pula bahwa Sebelum semua siswa pulang atau dijemput keluarganya para guru masih akan ada yang standby di sekolah. Menunggu semua siswa sudah pulang. Sampai kapan proses belajar mengajar ini harus menempati kelas dan ruang darurat, sampai kapan situasi ini akan berubah, Kepala Sekolah hanya bisa menyerahkan semuanya kepada Pemerintah Daerah atau Dinas Pendidikan, bagaimana kebijakan dan keputusannya. (Kominfo)
Please follow and like us:
0

About the author:

Alamat

themecircle

Tentang Ponorogo

Back to Top