Situs Cinta Terlarang Sukorejo

Situs Cinta Terlarang Sukorejo

Comments Off on Situs Cinta Terlarang Sukorejo

Situs Cinta Terlarang Sukorejo

Sukorejo – Sebuah perjalanan sejarah senantiasa terhias sebuah romantika cinta. Sebab tanpa kisah tersebut, sebuah sejarah tentu tidak terasa indah.

Ponorogo dalam catatan sejarah, memiliki sebuah kisah yang diyakini oleh masyarakat luas. Kisah cinta dalam tradisi sejarah ini berakhir dengan kepedihan.
Golan Mirah, begitu orang menyebut, tentu langsung bisa menangkap kisah cinta yang terlarang.
“Perjaka Golan tidak boleh menikah dengan perawan Mirah atau perjaka Mirah tidak boleh menikah dengan perawan Golan,” ujar Mbah Kaseri, salah seorang penduduk Desa Nambang Rejo, yang di Desa tersebut menyimpan situs cinta ini.
Sebenarnya, kisah Cinta Golan Mirah ini merupakan kisah cinta yang banyak tersebar dan punya kemiripan dengan kisah cinta yang lain, dengan ending cerita kepedihan.
Sampai dan Ingtai di China misalnya, adalah sebuah kisah cinta yang berending sedih.
Perbedaanya, kisah cinta Golan Mirah ini dilanjutkan dengan sebuah tradisi yang berkembang pada masyarakat. Yakni kedua desa tersebut tidak boleh berjodohan, hingga ini saat. Dan hal itu menjadi keyakinan di daerah berasalnya kisah cinta dari Ponorogo ini.
Sebetulnya, kisah ini adalah hubungan dua desa yang memeluk agama berbeda. Yaitu Joko Lancur putera Ki Ageng Honggo Lono dari Kademangan Karangan (Golan) dan Siti Amirah Putri Kiai Ageng Mirah dari Mirah (Nambang Rejo).
Kisah yang berkembang pada masyarakat Ponorogo ada beberapa versi. Akan tetapi ending kisah cinta itu menemukan kesamaan.
Salah satu kisah, Joko Lancur yang gemar Sabung Ayam, menantang sabung ayam dengan pemuda Mirah. Dan kalah kemudian berlari ke kediaman Kiai Ageng Mirah.
Ada juga yang mengisahkan, penantang adu ayam tersebut sebetulnya Kiai Ageng Mirah. Yang nanti jika kalah ia akan dinikahkan dengan puterinya.
Dalam kisah tersebut, sebetulnya Kiai Ageng Mirah adalah saudara dengan Ki Honggo Lono. Keduanya putra dari Bah Aseng, (yang tempat pamoksannya ada kijing makam di depan gapura masuk Lokasi pengabuan Ki Honggo Lono) meski selanjutnya berbeda keyakinan beragama. Sehingga karena masih sedarah dan tidak boleh menjalin perjodohan.
Kesamaan kisah tersebut adalah, sama sama menceritakan Kesaktian ilmu karang dari Ki Honggolono dalam memenuhi “bebana” pernikahan kedua belah pihak.
Di ceritakan dalam kisah tutur masyarakat, maupun dalam Buku Babad Ponorogo, karya Purwo Wijaya; bahwa, Joko Lancur bisa menikahi tapi dengan bebana (mas kawin), padi, kedelai dan ketan satu bodak (tempat menyimpan hasil panen dari anyaman bambu), yang harus berjalan sendiri dari Karangan (Golan) hingga Mirah (Nambang Rejo).
Dengan kekuatan ilmu karang yang dimiliki oleh Ki Honggolono semua terpenuhi. Tapi, menurut cerita, padi berasal dari damen (batang padi), kedelai dari kulit kedelai dan ketan dari batang ketan. Ketiga barang tersebut berjalan sendiri dari Golan hingga Mirah berkat kesaktian ilmu karang dari Ki Honggolono.
Akan tetapi, sesampainya di Mirah, semua berubah. Padi jadi batang padi, Kedelai jadi titen dan Ketan jadi merang. Sehingga Ki Ageng Mirah menolak pernikahan karena tidak terpenuhinya bebana.
Karena malu, Ki Hanggalana membentak dengan kekuatan kesaktian. Yang menyebabkan Siti Amirah tewas dan Joko Lancur  bunuh diri, karena melihat kekasihnya meninggal dunia.
Keduanya juga ayam jagonya dimakamkan jadi satu di Desa Nambang Rejo Kecamatan Sukorejo. Juga diyakini banyak orang tempat tersebut merupakan tempat tinggal Kiai Ageng Mirah.
Hingga ini saat kedua desa tersebut tidak boleh memadu kasih hingga pernikahan. Bahkan air dari kedua desa tersebut tak mau bersatu.
Please follow and like us:
0

About the author:

Back to Top