Wayang, Seni Pertunjukan Yang Butuh Sentuhan Khusus

Wayang, Seni Pertunjukan Yang Butuh Sentuhan Khusus

Comments Off on Wayang, Seni Pertunjukan Yang Butuh Sentuhan Khusus

Wayang adalah seni pertunjukan yang boleh kita katakan tua usianya. Sebab wayang ini mengalami  beberapa kali perubahan bentuknya. Dari Wayang Beber hingga wayang yang kita saksikan ini.

Demikian juga cerita-cerita wayang dalam pertunjukan mengalami banyak perubahan. Menurut Lesbumi Ponorogo, Wayang pada era tersebut sebagai fungsi ritual yang mengacu sebagai budaya agraris. Menurut Buku Atlas Wali Songo; K.H. Agus Sunyoto; LTN PBNU;2012, ciri ciri seni pertunjukan pada masa tersebut adalah: 1. Membutuhkan tempat khusus yang lazimnya dianggap sakral. 2. Di butuhkan waktu yang tepat juga dianggap sakral. 3. Butuh pemain terpilih, yang di anggap suci bersih secara spiritual. 4. Sesaji yang banyak macam jenisnya. 5. Tujuan spiritual lebih di utamakan dari pada nilai estetis. 6. Menggunakan busana khusus.

Seni pewayangan merupakan seni pertunjukan yang digemari dari masa ke masa. Bahkan Dr. G. A. J. Hazeu dalam desertasinya, Bijdrage Tot de Kennis Van Het Javaansche Tooneel (1987), beranggapan bahwa seni wayang dan kultus nenek moyang dalam bentuk bentuk genetik. Hazeu beranggapan wayang sudah dikenal sebagai produk budaya animisme Jawa, sekurang kurangnya sebelum tahun 400 M.
Maka pada era dewasa ini para pemain wayang tentunya harus berani mengambil pola pementasan sehingga wayang tidak monoton.
Sehingga penonton bisa betah.

Lesbumi menilai, cara cara memainkan wayang agar mampu menggaet banyak penggemar telah banyak dilakukan para Dalang. Yang dilakukan Dalang Sunaryo, misalnya, mantan Wakil  Gubernur Jatim ini mengusung berbagai atraksi seni dalam pementasan wayang. Ada seni Fashion, seni tari dan sebagainya. Ki Enthos Susmono yang juga Tokoh Seni Pedalangan Lesbumi PBNU, juga merombak pewayangan dari corak dan karakter wayang dengan “wayang rai wong”.  Bshkan Dalang dalang lokal Ponorogo mengusung seni elektone dan campur sari sebagai selingan Limbuk atau Goro goro.

Strategi tersebut adalah alat agar wayang bisa digemari oleh generasi saat ini. Tetapi bagaimanapun jurus yang dikeluarkan para dalang, belum banyak perubahan.

Maka Lesbumi, mengambil strategi pengenalan seni pewayangan di usia Sekolah Dasar. Mengenalkan pada mereka nama alat, tokoh dan cara memainkan wayang. Pola ini kiranya lebih tepat.  Sehingga sejak kecil, mereka mengenal wayang dan seni pedhalangan diharapkan muncul kecintaan oada seni pewayangan. (Kominfo)

Please follow and like us:
0

About the author:

Alamat

themecircle

Tentang Ponorogo

Back to Top