Waspada Demam Berdarah Dengue (DBD)

By on December 14, 2018 at 5:28 pm 0 1597 Views

Warga Ponorogo harus lebih meningkatkan kebersihan rumah dan lingkungan tempat tinggal. Sebab, penyakit demam berdarah dengue (DBD) sedang marak terjadi. Selain mengancam kesehatan, DBD harus diwaspadai karena dapat mengancam jiwa seseorang.

Merujuk data RSUD Dr Harjdono sedikitnya ada delapan pasien anak DBD yang keluar masuk tiap bulannya. Perinciannya delapan pasien pada bulan September, Oktober, Nopember. Sementara bulan ini ada tiga pasien. ‘’Yang dimaksud anak-anak ini kurang dari 18 tahun,’’ kata Suprapto Kasubag Humas RSUD Dr Harjono, Jum’at (14/12)

Sementara untuk pasien dewasa pada bulan ini ada tiga pasien. Jumlah itu meningkat dari bulan sebelumnya yang hanya ada dua pasien. ‘’Tiap pasien yang keluar kami berikan bekal pengetahuan untuk mencegah penyakit DBD dengan menjaga kebersihan rumah dan lingkungan,’’ ucapnya.

Suprapto mengungkapkan mayoritas pasien yang dirujuk ke rumah sakit setempat belum terlalu parah. Sehingga pasien dapat ditangani dengan baik dan tidak bersiko pada kematian. ‘’Kami sudah lakukan penanganan sesuai dengan standar operasional (SOP) yang ada,’’ lanjutnya.

Selain itu, dia mengungkapkan pihaknya juga membekali dengan pengetahuan kepada pasien DBD yang keluar dari rumah sakit. Pihaknya meminta kelurga dan pasien agar memperhatikan kebersihan rumah dan lingkungan. ‘’Karena itu satu-satunya cara untuk memotong mata rantai pertumbuhan nyamuk,’’ ucapnya. 

Di Desa Wringinanom, Sambit, Ponorogo hingga kini telah tercatat sedikitnya 40-an warga terjangkit DBD. Bahkan satu anak umur enam tahun di desa tersebut dinyatakan meninggal akibat penyakit tersebut.

Salah satu pasien yang saat ini tengah menjalani perawatan adalah Misnatun, 42, warga setempat. Dia hanya bisa tergeletak lemas di RSUD Dr Harjono akibat penyakit yang disebabkan nyamuk aedes aegypti itu. ‘’Saya sudah dua hari dirawat di sini,’’ kata Misnatun.

Misnatun mengatakan awalnya dia merasa tubuhnya lemas. Setelah diperiksa ke puskesmas setempat dia diagnosis tyfus. Belum genap sehari dirawat, trombositnya diketahui menurun. ‘’Akhirnya dirujuk ke rumah sakit setelah diketahui kena demam berdarah,’’ lanjutnya.

Meski sudah mendapatkan perawatan, Misnatun semakin cemas lantaran anaknya sedang sakit tyfus di rumah. Pun dia terbayang anak tetangganya yang masih berumur 6 tahun meninggal akibat penyakit DBD. ‘’Anak saya sedang sakit juga semoga bukan demam berdarah. Saya berharap pemerintah segera menangani agar korban tidak bertambah,’’ ungkapnya. (Kominfo/fdl)

  News
Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *