Warga Ponorogo Ciptakan Alat Fogging Sederhana

By on January 30, 2019 at 3:59 pm 0 814 Views

Teror Demam Berdarah Dengue (DBD) menghantui Ponorogo, pasien yang terus bertambah hingga meluber hingga lorong pun menjadi dasar ditetapkannya Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD untuk wilayah Ponorogo.

Ahmad Masruri prihatin melihat kondisi yang terus bertambahnya pasien apalagi melihat warganya di lingkungannya juga ada yang terdampak dari gigitan nyamuk aedes aegypti tersebut. Ruri sapaan akrab Ahmad Masruri lantas berinovasi membuat alat fogging sendiri dengan memanfaatkan alat bekas yang ada disekitarnya.

“Awalnya ini saya mendengar tetangga ada yang terkena DB, dan menunggu antrian fogging dari Dinas Kesehatan maupun Instansi lain lama, lantas saya bikin alat fogging sendiri dengan memanfaatkan alat bekas yang ada disekitar saya,” ungkapnya.

Dengan memanfaatkan sprayer burung miliknya dipadukan dan dirangkaikan dengan sebuah alat pematik las portabel sehingga bisa menghasilkan alat fogging sederhana nan portabel. 

“Ide ini muncul dari pengalaman saya menjadi TKI di Korea selama 4 tahun, disana setiap 2 minggu sekali diadakan fogging dengan alat sederhana nan mudah dibawa, lalu saya berfikir untuk membuatnya sendiri alat dengan barang bekas,” kata warga Setono itu. 

Ia juga menjelaskan cara membuat alat foggingnya itu, dimana ujung las portable tersebut sudah di modifikasi sedemikian rupa lantas dipasang pipa tembaga bekas pendingin ruangan yang telah di bentuk spiral. Pipa tembaga ini adalah jalur cairan obat fogging yang kemudian dipanaskan oleh api dari las portabel.

Untuk cara kerjanyapun sangat sederhana, awal mulanya pematik gas portablenya dinyalakan maka akan memanaskan pipa tembaga yang telah dipasang di ujung alat las, ketika pipa tembaga sudah terlihat panas maka cairan pembasmi nyamuk yang telah dimasukkan kedalam sprayer disemprotkan, yang sebelumnya telah dihubungkan dengan selang pada ujung tembaga.

“Cara kerjanya sama persis dengan rokok elektrik yang ada dipasaran, bedanya ini menggunakan gas portabel dan dimensinya besar,” ujar bapak satu anak ini.

Ditanya sejak kapan ia membuat alat itu? Ia sudah membuat alat itu sejak pertengahan lalu, awalnya hanya ia gunakan sendiri dan untuk lingkungan sekitar tempat tinggalnya. Tapi karena wabah DB semakin banyak, permintaan membuat alat inipun juga ikut mengalami peningkatan.

“Sekarang ini banyak pesanan yang masuk dari teman dan warga yang ingin miliki alat ini,” ceritanya.

Dirinya juga tak menutup diri kepada siapaun yang ingin belajar untuk membuat alat fogging sendiri. (Kominfo/fd)

  Umum
Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *