Toleransi Beragama di Tunjukkan Warga Desa Gelangkulon di Hari Raya Waisak

By on May 19, 2019 at 7:05 pm 0 180 Views

Indonesia kaya akan suku, agama, dan ras. Salah satu di Ponorogo, di kota Reyog ini terdapat sebuah kampung Budha yang terletak di barat kota. Tepatnya di Dusun Sodong, Desa Gelangkulon, Kecamatan Sampung. Sebanyak 143 orang dari 482 orang memeluk agama Buddha, sedangkan sisanya beragama Islam.

Meskipun mereka memiliki perbedaan keyakinan. Akan tetapi masyarakat disini memiliki rasa toleransi yang tinggi. Kerukunan ini telah dijaga masyarakat desa sejak tahun 1950 saat pertama kali agama Buddha masuk kedalam Dusun Sodong. Bahkan pembangunan vihara juga dilakukan secara swadaya oleh masyarakat setempat di tahun 1969.

“Kami akan tetap menjaga kerukunan ini, jangan sampai ada yang merusak kerukunan antar umat kami,” kata Suwandi Cittapanno, Ketua Vihara Dharma Dwipa, Minggu, (19/5/2019).

Dalam perayaan Waisak, ada ritual detik-detik Waisak yang jatuh tepat pukul 04.11 WIB, Minggu (19/5). Mulai dari perenungan, pembacaan pesan-pesan Waisak hingga meditasi selama satu jam. Berlanjut dengan sungkeman kepada sesepuh dan kedua orang tua. Terakhir dilanjutkan dengan pelepasan satwa, ikan.

Maknanya semua makhluk hidup supaya hidup bebas bisa hidup sesuai dengan alamnya tanpa adanya kekangan. Pihaknya ingin menunjukkan cinta kasih tanpa membeda-bedakan makhluk hidup sesuai dengan intisari ajaran Buddha.

“Ini bentuk cinta kasih kepada universal,” imbuhnya.

Untuk perayaan hari Waisak pada tahun ini, sama seperti tahun kemarin, bertepatan dengan bulan Ramadhan. Oleh karena itu kami menunda anjangsana (silaturahmi,red) untuk menghormati umat muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa.

“Saat anjangsana biasanya pihak tuan rumah menghidangkan aneka makanan. Pihaknya merasa tidak nyaman jika harus bertamu namun tuan rumah sedang berpuasa, kami tunda sampai hari raya Idul Fitri,” jelas Suwandi. (Kominfo/fdl)

  News
Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *