Lebaran, Aloon-Aloon Ponorogo Hasilkan Pendapatan Daerah Hingga Rp 200 Juta

By on May 21, 2019 at 4:23 pm 0 157 Views

ALOON-Aloon Ponorogo dipastikan menghasilan Pendapatan Asli Daerah (PAD) hingga Rp 200 juta. Ini didapatkan dari retribusi para pedagang yang mulai 25 Mei hingga 15 Juni mendatang bakal meramaikan pusat kota reyog dengan Pasar Malam Lebaran 1440 H/2019 mendatang.

Pada Pasar Malam Lebaran kali ini, luas tiap kapling adalah 3×3 meter alias 9 meter persegi. Tarif sewa yang disebut retribusi adalah Rp1.500 per meter persegi per hari. Artinya, setiap kapling harga sewanya adalah Rp 13.500 perhari. Sehingga untuk 22 hari pelaksanaan, sewa kapling akan mencapai Rp 297 ribu.

“Total uang yang masuk dari retribusi ini diperkirakan mencapai sekitar Rp 200 juta lebih,” ungkap Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perdagkum Kabupaten Ponorogo Toto Basuki, Selasa (21/5/2019) kepada ponorogo.go.id di kantornya.

Pasar Malam Lebaran Aloon-Aloon Ponorogo bakal dipadati oleh hampir 700 pedagang. Mereka akan meramaikan pusat kota Ponorogo pada 25 Mei sampai 15 Juni mendatang.

Toto mengatakan, sejak Jumat (17/5/2019) lalu pendaftaran pedagang peserta Pasar Malam Lebaran Ponorogo 2019 sudah ditutup. Kuota totalnya memang sebanyak 700 kapling. Namun tidak semuanya bakal jadi tempat berdagang maupun menawarkan jasa dan hiburan.

“Kita sudah tutup dan hampir 700 orang yang mendaftar. Sebagian besar dari Ponorogo karena memang kita utamakan yang dari daerah kita sendiri. Mereka yang sudah berdagang di Aloon-Aloon Ponorogo tentu dapat tempat dan sudah mendaftar,” ungkapnya.

“Pedagang sudah mendaftar sesuai prosedur. Di antaranya adalah membayar di depan biaya sewa atau retibusi ini. Hanya saja perlu diketahui, jumlah kaplingnya memang 700 ya, tapi tidak semuanya jadi lapak jualan. Sebab ada area yang jadi jalan untuk lewat para pengunjung,” lanjutnya.

Untuk pembagian zona berdasarkan barang dagangan, Toto menyatakan masih dikaji. Yang jelas, untuk stan kuliner atau makanan yang pedagangnya memakai kompor untuk memasak, maka akan ditempatkan di pinggiran atau bagian terluar.

“Ini penekanannya adalah soal potensi bahaya. Yang berbahaya, seperti pakai kompor, atau alat ada apinya dan bisa menimbulkan kebakaran ya di luar. Kalau (stan) pakaian ya bisa di dalam, begitu,” terangnya. (kominfo/dist)

  News
Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *