Ponorogo Berupaya Zero AIDS di Lima Tahun Mendatang

AIDS atau Acquired Immuno Deficiency Syndrome alias penyakit penurunan kekebalan tubuh manusia akan terus ditekan penyebaran dan penularannya di Ponorogo. Semua pihak diminta untuk melakukan langkah-langlah komprehensif agar pada lima tahun mendatang tidak ada lagi temuan penderita HIV-AIDS alias Ponorogo Zero.

Hal ini diutarakan Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni saat memimpin Peringatan Hari HIV-AIDS Se-Dunia di Ponorogo, Rabu (4/12/2019), di halaman Gedung Reyog. Dikatakannya, pada masa awal ditemukannya HIV AIDS dunia memang sempat gempar. Keresahan merajelela. Apalagi, Human Immuno-Deficiency Virus (HIV) menyerang kekebalan tubuh yang akan berakibat pada kondisi rentan terserang berbagai penyakit.

Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni menyempatkan diri gowes alias bersepeda dari Gedung Terpadu menuju gedung Reyog saat akan menghadiri Peringatan Hari AIDS Se-Dunia Kabupaten Ponorogo 2019, Rabu (4/12/2019).

Apalagi, obat yang bisa mengobati AIDS sampai tuntas hingga kini belum juga ditemukan. Meski begitu, berbagai upaya pencegahan untuk penularan dan penyebarannya bisa dilakukan. Sebab ternyata angka penderita HIV-AIDS di Ponorogo terus menurun. Yaitu 134 orang di 2017, 103 orang di 2018 dan 83 orang di 2019 sampai akhir November.

“Karena itu saya minta semua pihak, tidak hanya Dinkes, untuk bahu-membahu mencegah agar HIV AIDS tidak menular dan menyebar ke banyak orang. Kita beharap dan targetkan, dalam tahun mendatang angka penderita HIV AIDS di Ponorogo terus turun. Kalau memungkinkan, lima tahun mendatang Ponorogo zero HIV AIDS,” kata Bupati Ipong.

Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni bersama ketua Baznas Ponorogo Luhur Karsanto menyerahkan bingkisan kepada ODHA di Ponorogo.

Bupati Ipong menyatakan, semua pihak harus ikut serta menciptakan suasana lingkungan yang mampu mencegah penularan virus HIV AIDS di Ponorogo. Bupati Ipogn sempat menyebut Dinas Polisi Pamong Praja (POL PP) harus melakukan upaya komprehensif dalam munculnya prostitusi.

“Karena, menurut informasi yang saya terima, setelah ditutupnya (lokalisasi) Kedungbanteng, ternyata masih ada eks ‘warga Kedungbanteng’ yang praktek di berbagai tempat di di kota ini. Prostitusi adalah kegiatan yang berpotensi sangat besar bagi munculnya HIV AIDS ini,” ulasnya.

Selain Dinas Pol PP, pekerjaan mencegah penularan HIV AIDS ini juga tugas seluruh pihak. Bupati Ipong menyebut di dalamnya ada peran camat, kades, ketua RW, ketua RT dan seluruh masyarakat Kabupaten Ponorogo.

Peserta Peringatan Hari AIDS Se-Dunia di Ponorogo melaksanakan senam sebagai rangkaian kegiatan peringatan dan juga menjadi upaya hidup sehat.

Ditambahkannya, bagi warga yang sudah terserang, Bupati Ipong menyatakan, pemerintah terus berupaya mengobati. Kalau saat ini yang ada baru ibat untuk mencegah HIV berkembang, ia yakin suatu saat akan ada obat untuk penyakit AIDS. Yang terpenting, para penderita yang disebut ODHA atua Orang Dengan HIV AIDS mau dan bersedia untuk untuk diobati.

Bupati Ipong juga mengajak semua pihak untuk menepis pandangan negatif dan diskriminasi terhadap ODHA. “Kita semua jangan alergi dengan ODHA. Penularan AIDS itu tidak segampang yang sering kita kita dengar. Hanya bisa melalui hubungan seksual, jarum suntik, dan transfusi darah. Berciuman, konon katanya, tidak apa-apa,” ungkap Bupati Ipong.

Dinkes Ponorogo menyediakan sudut pemeriksaan HIV dan AIDS gratis di lokasi peringatan.

Kepala Dinkes Rahayu Kusdarini menambahkan, untuk menekan munculnya penderita HIV AIDS, pihaknya terus melakukan peningkatan pelayanan ODHA. Caranya dengan pertemuaan rutin peer education dan perluasan akses layanan tes di seluruh fasilitas layanan kesehatan, baik tingkat puskesmas maupun rumah sakit. “Bahkan kita sudah memiliki puskesmas yang bisa memberikan layanan pengobatan HIV yaitu di Puskesmas Kauman, Jetis, dan Ngrayun serta di RS dr Harjono,” kata birokrat yang akrap disapa Irine ini.

Upaya lain yang bisa dilakukan adalah mengajak seluruh masyarakat untuk membuka diri agar mau sedini mungkin melakukan tes HIV AIDS. Untuk itu, kata Irine, pihaknya melaksanakan bulan peringatan HIV AIDS dengan menyediakan layanan pemeriksaan gratis HIV-AIDS secara gratis dengan sifat kesukarelaan dari peserta. Layanan gratis ini sudah dimulai sejak pertengahan November lalu dan akan berakhir 31 Desember mendatang.

Selai itu penting juga dukungan dari masyarakat agar menghilangka stigma buruk dan perlakuan diskiminatif masyarakat terhadap ODHA. “Maka dari itu besar harapan kami warga peduli AIDS yang dibentuk di desa-desa bisa dimaksimalkan untuk memberikan edukasi tentang HIV AIDS kepada masyarakat serta terus nerikan dukungan kepada penderita sehinga ODHA bisa melanjutkan hidup sama dengan warga lain untuk kemudian bisa meningkatkan kualitas hidupnya,” pungkas Irine. (kominfo/dist)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*