Puncak Pesta Para Pelari Peduli Negeri, 110 Jadi Finisher

By on December 8, 2019 0 138 Views

PESTA para pelari peserta NusantaRun Chapter 7 Gunung Kidul—Ponorogo mencapai puncaknya, Minggu (8/12/2019). Sebanyak 110 orang berhasil mencapai garis finis dan menjadi _finisher_. Sejumlah dana pun diharapkan terhimpun untuk memajukan dunia pendidikan dan mendukung atlet pelajar penyandang disabilitas.

Media Relations Yayasan NusantaRun Dian Maya Puspitasari usai kegiatan mengatakan, pada kegiatan tahun ketujuh kali ini, sebanyak dari 155 pelari yang berhak mengikuti kegiatan berlari, hanya satu yang gagal mengikuti start. Dari 154 yang mengikuti ajang lari ini, 84 pelari mengikuti _full course_ (FC) atau jarak penuh 133 km (Gunung Kidul—Ponorogo) dan 74 lainnya mengikuti _half course_ (HC) atau berjarak 71 km (Wonogiri—Ponorogo).

Salah satu pelari dari club fakerunner Karawang menyempatkan diri berfoto di depan tulisan Aloon-Aloon Ponorogo bersama krunya sebelum mencapai garis finis.

Sebanyak 44 di antaranya gagal mencapai finish dengan berbagai alasan. Dari peserta FC yang gagal mencapai 43 persen. Sedangkan pada HC yang gagal mencapai 11 persen. Namun, hal ini bukanlah masalah. Yang terpenting, ajang ini adalah kegembiraan dan kebersamaan dalam melakukan olah raga kegemaran serta melakukan amal dan donasi untuk pihak-pihak yang membutuhkan.

“Ajang ini adalah tempat berkumpulnya para pelari yang ikut berlari sambil mengumpulkan dana dengan cara yang disebut _crowdfundraising_,” jelas wanita yang akrab disapa DM ini.

Kepala Dispora Kabupaten Ponorogo Lilik Slamet Rahardjo saat menyerahkan _finisher tees_ kepada salah satu pelari yang masuk garis finis di halaman Pendopo Agung Ponorogo.

Salah satu pelari wanita yang mampu menyelesaikan _full course_ atau jarak penuh sejauh 133 km dari Gunung Kidul sampai di Ponorogo.

Diterangkannya, sebelum hari pelaksanaan, para pelari mendapatkan platform penggalangan dana melalui KitaBisa (kitabisa.com). Mereka (para pelari) harus mengajak kawan, saudara, kerabat atau keluarganya untuk menyumbang melalui pelari. Sang pelari boleh ikut berlari setelah memenuhi angka tertentu untuk disumbangkan. Pelari memiliki periode tiga bulan dari sebelum hingga sesudah lari dilaksanakan.

“Dana ini akan disumbangkan ke dunia pendidikan di daerah yang dilewati. Dana dari kegiatan ini sebetulnya tidak banyak, tapi terus ktia lakukan agar menjadi inspirasi agar pihak-pihak lain bisa melakukan hal yang sama,” ulasnya.

Sebab, lanjutnya, dari pendidikan yang baik akan terjadi perikehidupan yang lebih baik, terangkat dari kemiskinan. Dengan pendidikan yang baik pula akan ada kesadaran kesehatan yang lebih baik. Untuk chapter 7 kali ini bantuan akan disalurkan melalui organisasi Ohana yang siap menyalurkan untuk dunia pendidikan dan atlet pelajar penyandang disabilitas.

“Bantuan akan diberikan ke warga yang berhak di Gunung Kidul sampai Ponorogo. Di mana kami berlari di situlah donasi diberikan,” ujarnya.

Namun, sayangnya  saat ini pihaknya masih kesulitan untuk mendapatkan data pasti soal penyandang disabilitas. DM menyatakan, masyarakat masih punya pandangan bahwa anggota keluarga yang mengalami disabilitas atau memiliki kebutuhan khusus adalah hal yang memalukan. Sehingga selain donasi, target lainnya adalah menyejajarkan warga disabiltias dengan warga normal dalam berbagai hal.

“Untuk NusantaRun Chapter 7 target kami mampu mengumpulkan dana sampai Rp2,5 miliar,” ucap DM.

Ditambahkannya, NusantaRun juga menjadi ajang untuk mengeksplorasi keindahan alam Indonesia dan tentu saja mempromosikan budaya hidup sehat. Kegembiraan berlari didapatkan dari pemandangan yang bisa dinikmati pada rute-rute yang haru dilalui. Keseruan juga didapatkan kebersamaan para pelari, kru pelari, relawan dalam kepanitiaan dan kehangatan sambutan warga pada rute-rute yang dilalui.

Kepala Dinas Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Ponorogo Lilik Slamet Rahardjo menyambut positif kegiatan ini. Sebab, olah raga berlari ini dikombinasi dengan kegiatan penggalangan dana untuk pendidikan dan penyandang disabilitas.

“Kita berharap hal seperti ini bisa menular di Ponorogo. Mengingat di Ponorogo ada banyak juga penyandang disabilitas,” kata Lilik. (kominfo/dist)

  News
Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *