Sebanyak 388 Tukang Becak Terima Bantuan Pemkab Ponorogo

January 17, 2020 15:44 WIB 559 Views

TUKANG becak kayuh di sekitar pusat Kota Ponorogo bisa tersenyum lega. Solusi atas pelarangan penggunaan becak bermotor alias bentor akhirnya diberikan Pemkab Ponorogo. Para tukang becak ini diberi bantuan oleh Pemkab Ponorogo untuk menjadi becak wisata.

Bantuan ini diserahkan langsung oleh Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni, Jumat (17/1/2020) di Aloon-Aloon Ponorogo kepada 388 tukang becak yang beroperasi di sekitar Ponorogo seperti Aloon-Aloon Ponorogo sampai Pasar Legi Ponorogo. Tiap tukang becak mendapat bantuan senilai Rp900 ribu. Bantuan ini berupa dana segar, satu set baju penadon, dan modifikasi ringan pada becaknya. Totalnya mencapai Rp386.900.000.

Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni memakaikan penadon atau baju khas Ponorogo kepada perwakilan tukang becak kayuh saat apel penyerahan bantuan kepada tukang becak kayuh, Jumat (17/1/2020) di Aloon-Aloon Ponorogo.

“Ini menjadi solusi atas razia bentor yang kita lakukan dengan pihak Polres Ponorogo beberapa waktu lalu. Mereka kita arahkan kembali ke becak kayuh, menjadi becak wisata,” ujar Bupati Ipong sesaat setelah penyerahan bantuan.

Hal ini agar becak kayuh ini memiliki daya tarik lebih bagi warga Ponorogo maupun wisatawan yang sedang berkunjung di Ponorogo. Harapannya, kata Bupati Ipong, perubahan ini akan membuat tukang becak di Ponorogo mendapatkan order lebih banyak karena peminatnya kembali meningkat.

Bupati Ponorogo menyalami para tukang becak kayuh usai apel penyerahan bantuan kepada tukang becak kayuh, Jumat (17/1/2020) di Aloon-Aloon Ponorogo.

“Kalau sudah begitu tentu pendapatannya akan meningkat juga. Begitu harapan kita,” tutur Bupati Ipong.

Untuk baju pendaong atau baju khas Ponorogo yang serba hitam akan dikenakan para tukang becak saat ada kegiatan tertentu terkait pariwisata di Ponorogo. Untuk sehari-hari, mereka bisa mengenakan baju lain yang tentunya harus sopan.

Soal tempat mangkal, Bupati Ipong mengatakan tidak ada titik tertentu. Namun, tempat-tempat keramaian yang potensial untuk mencari penumpang bisa dijadikan lokasi mangkal. Terpenting, para tukang becak ini tertib dan tidak mengganggu kelancaran lalu lintas.

“Misalnya di depan Pasar Legi yang baru nanti, ya bisa saja. Tapi ya tetap diatur di mananya. Biar tertib,” ungkapnya. (kominfo/dist)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *