Pastikan Anggota PKK Ambil Peran Pulihkan Perekonomian

HABIS gelap terbitlah terang karir politik Sugiri Sancoko dilalui bersama Susilowati. Ya, perempuan kelahiran Desa Bajang, Balong, Ponorogo, itu pernah menyandang status istri anggota dewan tatkala suaminya tercatat sebagai anggota DPRD Jawa Timur (Jatim). Dua kali pula Susilowati mendampingi Sugiri Sancoko maju dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Ponorogo 2015 dan 2020.

SETELAH penantian selama lima tahun, Susilowati berdiri lekat di samping Sugiri Sancoko saat resmi dilantik menjadi Bupati Ponorogo, pada 26 Februari 2021. Bertepatan juga dengan ulang tahun Kang Bupati –sapaan Bupati Sugiri Sancoko– yang ke-50. Hari istimewa karena setahun lalu bersamaan dengan pandemi Covid-19 yang tengah ganas melanda.

Bukan hal mudah  bagi seorang istri bupati yang notabene ketua tim penggerak pembinaan kesejahteraan keluarga (PKK) berkiprah ketika virus korona sedang menyerang membabi buta. Bus Sus –sapaan Susilowati– harus memastikan para perempuan di Ponorogo berperan aktif menjaga kesehatan keluarga. Para istri kala itu juga turut mengambil peranan memulihkan kondisi perekonomian dari lingkup terkecil masyarakat, yakni keluarga.

‘’Kebetulan bertepatan dengan bulan puasa. Saya menggagas Pasar Ramadan dan Pasar Krempyeng,’’ kata Bu Sus.

Aktivitas usaha pun akhirnya hidup nyaris di setiap rumah tangga. Kaum perempuan seolah berlomba berwira usaha. Mereka memanfaatkan hasil bercocok tanam di pekarangan rumah, mengasah keterampilan, dan aktivitas lain yang produktif. Sebuah refleksi perjuangan Kartini atas emansipasi.

‘’Hasil karya ibu-ibu mulai olahan masakan, beragam jenis keterampilan menjahit, atau membuat  kerajinan pernak-pernik dipasarkan di Pasar Ramadan dan Pasar Krempyeng yang sudah terjadwal,’’ jelas ibu dari tiga anak itu.

Istri Kang Bupati bersama tim penggerak PKK juga mendorong penguasaan teknologi.  Dibentuklah PKK Academia yang anggotanya dari kalangan remaja usia 18 tahun ke atas. Mereka ikut memasarkan hasil produksi rumah tangga yang awalnya sebatas offline akhirnya merambah ke online marketplace.  ‘’Sekarang  ini, produk-produk rumah tangga Ponorogo sudah dapat ditemukan di sejumlah marketplace ternama,’’ ungkapnya.

Lewat PKK Academia pula kesenjangan antara ibu-ibu dan generasi yang lebih muda mampu terjembatani. Adaptasi terhadap perkembangan teknologi menjadi hal wajib lantaran ada urgensi kesiapan para ibu mendampingi putra-putrinya menjalani pembelajaran online waktu itu. ‘’Kalau para ibu sudah akrab dengan kemajuan teknologi, maka efek negatif yang ditimbulkannya dapat dapat dicegah atau diminimalisir,’’ tegas Bu Sus.

Komunikasi Kunci Keharmonisan

Setahun sudah Bu Sus mendampingi Kang Bupati memimpin Ponorogo. Kunci menjaga keharmonisan rumah tangga di tengah kesibukan padat Mas Giri –panggilan sayang Bu Sus kepada suaminya—adalah melalui komunikasi. Bu Sus dan suami selalu mengkomunikasikan semua hal hingga tercapai kesepahaman. Dukungan penuh akhirnya muncul dari pasangan. ‘’Kalau kami menginginkan sesuatu, selalu ada komunikasi dulu, kemudian saling support, dan saling mendukung. InsyaAllah mendapat kemudahan,’’ ujar putri pasangan almarhum Podoraharjo dan almarhumah Siti Khomsatun itu.

Di umur pernikahannya yang sudah 22 tahun, Bu Sus tetap mempertahankan panggilan sayangnya ke suami. Tetap Mas Giri. Sebaliknya, Kang Bupati memanggil istrinya dengan sapaan Dik. ‘’Sedapat mungkin sampai kakek nenek nanti tetap saya panggil Mas Giri. Secara piskologis, panggilan itu punya dampak, punya pengaruh di pikiran kita. InsyaAllah sampai tua nanti saya masih panggil suami dengan Mas,’’ ucap Bu Sus sedikit tersipu.

Cinta Tanaman, Mahir Menjahit, Gemar Hiking

Di sebalik sosoknya yang keibuan, siapa sangka Bu Sus tak sungkan ikut mendaki gunung bersama ketiga buah hatinya. Putra-putrinya memiliki hobi pendakian (hiking). Sekali dua si ibu turut menemani mereka naik gunung. Momentum itu menjadi salah satu pilihan favorit menghabiskan waktu bersama anak-anak.

‘’Ketiga-tiganya, terutama yang bungsu, kalau ada libur sehari saja di rumah, pasti ngajak naik gunung. Kalau hari ini belum, besoknya ngajak lagi, besoknya lagi. Begitu terus sampai jadi berangkat naik gunung,’’ cerita Bu Sus.

Istri Kang Bupati itu ternyata juga pencinta tanaman. Di Pringgitan (rumah dinas bupati) maupun di kediaman orang tuanya di Bajang, Bu Sus menyimpan sejumlah koleksi tanaman. Hobinya berkebun dimulai sedari kecil dulu. Baginya setiap tanaman punya keistimewaan masing-masing. Selain itu, tangan Bu Sus terampil menjahit. Tak sedikit gaun yang dikenakannya hasil karyanya sendiri. Komplet sudah. (kominfo/dyah/hw)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*