Laku Tirakat Satukan Energi Segaris Sambut 1 Suro
GREBEG SURO 2025 lebih kaya makna. Agenda Laku Tirakat, tepat pada malam 1 Muharam 1447 Hijriah atau 1 Suro 1959 Dal (penanggalan Jawa), mampu menyatukan energi segaris ribuan peserta di Alun-Alun Ponorogo. Mereka datang bergelombang dari empat penjuru dengan membawa obor saat penerangan lapangan besar itu diredupkan, Jumat (27/6/2025) dini hari.

Peserta Laku Tirakat yang sesuai prediksi berjumlah 3.500 orang itu lebih dulu berkumpul di penggal Jalan Yos Sudarso, Gedung Sentra Industri, Gedung Bakti, dan Gedung Terpadu. Mereka bergerak dengan jam start yang nyaris sama menuju satu arah Alun-Alun Ponorogo. “Ini bukan sekadar berjalan kaki bersama, melainkan wujud perenungan, kontemplasi, dan permohonan keberkahan di awal tahun,” ujar Bhree Heru Trimawan, ketua Pamong Wengker.
Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko ikut menyatu dengan ribuan peserta Laku Tirakat. Ada penari di Panggung Utama Alun-Alun Ponorogo menyuguhkan tarian kontemporer yang menggambarkan perjalanan spiritual manusia menghadapi ujian hidup, keputusasaan, dan harapan akan pertolongan Tuhan. Penampilan itu diiringi tembang-tembang sakral, seperti Kidung Rumeksa Ing Wengi dan Kidung Singgah-Singgah.
Suasana bertambah sakral saat Kang Giri naik ke panggung untuk menembangkan dua bagian dari Serat Panitibaya yang berisi 176 naskah kuno karangan Bathoro Katong II. “Serat ini bermakna ajaran penting untuk memiliki pendirian hidup, kebijaksanaan dalam mengambil keputusan, serta pedoman bagi kita agar tidak salah arah dalam menapaki kehidupan dunia,” terang Kang Giri.

Pada pengujung Laku Tirakat, ribuan peserta memanjatkan doa bersama. Hujan gerimis yang sempat turun tidak menyurutkan peserta mengikuti seluruh rangkaian acara. “Tirakat menjadi titik penting dalam menyambut 1 Suro, ini warisan leluhur untuk menyucikan hati, memperkuat batin, dan menapak kehidupan dengan kesadaran spiritual yang lebih dalam.” imbuh Bhree Heru. (kominfo/dna)