Besti Pasangi Bendera Rumah Bumil di Ponorogo Berdasar Tingkat Risiko Kehamilan
EFEKTIVITAS program BESTI PREN (Bumil Sehat, Stunting Turun didampingi Pendamping Keren) menunjukkan hasil yang menjanjikan. Tiga bulan sejak Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko me-launching program pada Mei 2025, BESTI PREN sudah menjangkau sebanyak 2.413 ibu hamil dan 2.350 balita stunting di desa/kelurahan di 21 kecamatan.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Ponorogo Dyah Ayu Puspitaningarti menyebut gerakan kolaboratif berbasis pemberdayaan masyarakat yang mendorong percepatan BESTI PREN. Program pendampingan melibatkan tim penggerak PKK, Aisyiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Muslimat, Fatayat NU, GPdI Eben Haezer, DPC WKRI Paroki Santa Maria, serta GKJW. “Kader-kader pendamping yang mendapat sebutan Besti akan memantau dan mendampingi ibu hamil serta balita stunting secara langsung,” kata Dyah Ayu, Rabu (23/7/2025).
Menurut dia, para Besti memasang penanda berupa bendera di rumah ibu hamil yang menunjukkan tingkat risiko tertentu. Di rumah ibu hamil berisiko rendah akan terpasang bendera hijau dengan skor risiko 2. Sementara itu, rumah ibu hamil risiko tinggi mendapat tanda bendera kuning (skor 6–10). Sedangkan bendera merah menandai rumah ibu hamil dengan risiko sangat tinggi (skor di atas 10). “Untuk mempermudah pemantauan serta meningkatkan kewaspadaan,” terang Kadinkes yang baru saja menyelesaikan program doktoral di bidang ilmu sosial itu.
Meski berbeda status risiko, seluruh ibu hamil tetap mendapatkan pendampingan dengan pendekatan yang sama. Yakni, mendorong agar melakukan pemeriksaan rutin ke tenaga kesehatan secara rutin sesuai jadwal dan kriteria medis. “Tindak lanjut pemantauan akan dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat,” terangnya.
Pihaknya berharap program BESTI PREN mampu menekan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) dan prevalensi stunting. Bersamaan itu, Besti juga mendampingi balita stunting agar aktif mengikuti posyandu. Dengan hadir di posyandu, status gizi dan pertumbuhan anak dapat terpantau secara berkala serta mendapatkan intervensi jika diperlukan. “Kehadiran Besti menjadi penghubung penting antara keluarga dan tenaga kesehatan, memastikan tidak ada anak stunting yang luput dari perhatian,” jelasnya.

Program BESTI PREN merupakan kelanjutan dari berbagai upaya menurunkan angka stunting secara signifikan. Setelah berhasil menurunkan prevalensi stunting dari 21 persen pada 2021 menjadi hanya 8 persen di tahun 2024, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo memperkuat strategi kolaboratif yang menempatkan masyarakat sebagai mitra utama. “BESTI PREN adalah gerakan dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat. Harapanya ibu hamil sehat, bayi lahir selamat, dan tidak ada lagi anak yang gagal tumbuh, kembang,” pungkasnya. (kominfo/dna)