Seniman Tempuh Jalur Langit Kawal Reog Ponorogo Lolos Jadi WBTb dari UNESCO
RATUSAN seniman reog sengaja berkumpul di Pendopo Pemkab Ponorogo ketika sesi sidang ke-19 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage (ICH) berlangsung di Asunción, Paraguay, Selasa (3/12/2024) malam. Mereka kompak mengenakan busana penadon serba hitam tatkala mendoakan Reog Ponorogo lolos sebagai warisan budaya takbenda (WBTb) yang terdaftar di UNESCO.

PENDOPO MENGHITAM : Ratusan seniman Reog Ponorogo berdoa bersama di Pendopo Agung mengawal sidang penetapan warisan budaya takbenda (WBTb) dari UNESCO, Selasa (3/12/2024) malam.
Upaya para seniman yang menempuh jalur langit itu akhirnya terkabul bersamaan UNESCO menetapkan Reog Ponorogo sebagai WBTb kategori urgent safeguarding list (USL).
Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Judha Slamet Sarwo Edi mengatakan bahwa kadar kecintaan seniman reog terhadap kesenian peninggalan leluhur ini amat tinggi. “Perjuangan mereka melestarikan reog saat tidak dapat berkesenian selama pandemi Covid-19 begitu luar biasa,” kata Judha.
Seniman reog juga menolak mati-matian tatkala muncul klaim dari negara lain. UNESCO memasukkan Reog Ponorogo dalam kategori urgent safeguarding list berarti budaya yang perlu mendapatkan perhatian lebih dan penggalian sejarah mendesak. Perjuangan seniman selama ini tak pernah berhenti dalam mengawal penetapan Reog Ponorogo sebagai warisan budaya dunia. “Penantian sejak 2022 lalu akhirnya terbayar lunas,” jelas Judha.

Menurut dia, Ponorogo beruntung memiliki barisan seniman yang memiliki kepedulian tinggi terhadap reog. Kendati Reog Ponorogo dua tahun lalu pernah tersisih dari budaya sehat minum jamu untuk mendapat pengakuan dari UNESCO.
“Kebanggaan masyarakat Ponorogo terhadap reog semakin bertambah seiring adanya pengakuan internasional atas kekayaan budaya mereka,” pungkas Yudha. (kominfo/win)