Tadarus Budaya dengan Pertunjukan Reog Kolosal Tegaskan Ponorogo Kota Santri dan Budaya

PERNAH berkecimpung di event organizer membuat Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko lihai memberi titel acara. Pentas kolosal 54 grup reog –41 dari Ponorogo dan 13 dari luar daerah—di depan Paseban, Sabtu (15/3/2025) malam, mengusung tajuk Tadarus Budaya. ‘’Acaranya sengaja digelar tepat pada pertengahan Ramadan.  Ini adalah perpaduan antara peristiwa religi dan budaya. Kita ngaji bersama, mendengarkan tausiah, dan setelahnya baru pentas reog,” kata Kang Giri tentang pemberian nama event Tadarus Budaya itu.

FOTO : ERWIN SUGANDA/KOMINFO PONOROGO
TANDA SYUKUR : Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko memotong tumpeng atas keberhasilan Reog Ponorogo mendapat pengakuan Warisan Budaya Takbenda (WBTb) dari UNESCO dalam acara Tadarus Budaya, Sabtu (15/3/2025) malam.

Pun, Tadarus Budaya menapak tilas perjuangan Reog Ponorogo mendapat pengakuan dari UNESCO sebagai warisan budaya takbenda (WBTb). Tiga tahun lalu bersamaan deraan pandemi Covid-19, pertunjukan Reog Ponorogo terhalang dihelat. Tak urung, kesenian reog yang sudah ada sejak abad ke-15 lampau di Ponorogo itu membutuhkan perlindungan mendesak. UNESCO melalui sesi sidang ke-19 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage (ICH) di Paraguay akhirnya mengukuhkan Reog Ponorogo sebagai warisan budaya dunia, pada 3 Desember 2024.

Kang Giri kembali menegaskan  bahwa identitas Ponorogo adalah Kota Budaya dan Kota Santri.  Senyatanya, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) sudah memberikan Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) kepada Kabupaten Ponorogo tertanggal 25 November 2022. Bersamaan itu, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf)juga mengukuhkan Ponorogo sebagai Kabupaten/Kota (KaTa) Kreatif 2022 dari seni pertunjukan. ‘’Ponorogo memiliki 120 pondok pesantren, siapa yang membantahnya sebagai Kota Santri,’’ tanya balik Kang Giri. 

Masih kata bupati dua periode itu, reog menjadi simbol gotong royong karena berakar kuat pada nilai-nilai lokal dan semangat kebersamaan. Terbukti, gelaran Tadarus Budaya sama sekali tanpa sokongan dari anggaran pendapatan belanja daerah (APBD). Seniman reog dari Ponorogo dan luar daerah secara swadaya tampil bareng hingga mampu menyedot kedatangan ribuan masyarakat. ‘’Karena semangat yang sama untuk memajukan kebudayaan serta membangun harmoni antara lingkungan, agama, dan budaya,’’ tegas Kang Giri.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Ponorogo Judha Salamet Sarwo Edi mengungkapkan bahwa Tadarus Budaya bakal menjadi event tahunan sebagai pengingat perjuangan panjang mengusung Reog Ponorogo sebagai warisan budaya takbenda (WBTb) melalui penetapan dari UNESCO. Bersamaan itu, menjadi pembuktian Ponorogo sebagai habitatnya kesenian reog. ‘’Masyarakat begitu mencintai Reog Ponorogo, bukan hanya sebatas komunitas yang merasa memiliki,” ungkapnya. (kominfo/win)