Brahu Jadi Percontohan Pertama Desa Sehat Tanpa Indikasi Rokok di Jawa Timur
SEJARAH baru bagi Ponorogo bersamaan Desa Brahu di Kecamatan Siman mendeklarasikan sebagai Desa Sehat Aktif Tanpa Indikasi Rokok (DeSakti). Kawasan tanpa rokok (KTR) bakal banyak bermunculan di Desa Brahu. “Untuk memupuk kebiasaan merokok tanpa mengganggu hak orang lain harus memulainya dari lingkungan keluarga,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Ponorogo Dyah Ayu Puspitaningarti, Sabtu (19/7/2025).

Dyah Ayu menegaskan bahwa program DeSakti bukan bermaksud melarang orang merokok. Melainkan mengatur tempat merokok agar tidak mengganggu orang lain, terutama anak-anak. “Edukasi dimulai dari keluarga karena anak-anak mencontoh dari orang dewasa,” jelasnya. Deklarasi Desa Brahu sebagai DeSakti yang tercatat kali pertama di Jawa Timur itu berlangsung Senin (16/6/2025). “Program ini merupakan inisiatif masyarakat desa yang mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Ponorogo,” ungkap Kadinkes.
Penerapan KTR di Desa Brahu dilakukan secara terstruktur. Setiap RT wajib menyediakan lokasi khusus untuk merokok yang memenuhi beberapa kriteria. Di antaranya, lokasinya berada di luar ruangan, memiliki pohon atau ventilasi alami, serta jauh dari rumah dan fasilitas umum. Bahkan, fakta uniknya di Desa Brahu hanya ada seorang petani tembakau. “Masyarakatnya juga secara aktif terlibat dalam menjaga komitmen untuk tidak merokok sembarangan, termasuk tidak merokok di dalam rumah dan tempat ibadah,” jelas Dyah Ayu.
Menurut dia, DeSakti di Desa Brahu juga selaras dengan Program Kampung Tanpa Rokok yang diluncurkan Kementerian Kesehatan pada 16 Juni 2025 lalu. Program ini akan diperluas ke desa-desa lain di Ponorogo. “Rencananya, Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga akan berkunjung karena Brahu menjadi desa percontohan KTR,” ungkapnya.

Ke depan, penerapan KTR akan dipantau langsung melalui dashboard dari Kementerian Kesehatan yang memuat data pelanggaran dan kepatuhan warga terhadap aturan merokok. Penindakan terhadap pelanggaran dilakukan oleh satpol PP, namun tetap mengedepankan pendekatan yang humanis. “Kalau ada yang merokok sembarangan, cukup ditegur baik-baik dulu. Ini soal kesadaran bersama untuk hidup lebih sehat,” pungkasnya. (kominfo/mey/nky)