ASAL MUASAL KESENIAN REOG
Terdapat beberapa versi tentang Asal muasal kesenian Reog Ponorogo. Secara garis besar ada 3, Yaitu :
- Ki Ageng Kutu
Kerajaan Majapahit mencapai kejayaan pada masa Prabu Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada, namun perlahan merosot di era Raja Bre Kertabumi atau Prabu Brawijaya V. Raja terakhir Majapahit ini dinilai lemah karena terlalu tunduk pada kehendak permaisurinya, sehingga tidak mampu memimpin kerajaan sebaik pendahulunya. Situasi istana yang kacau membuat para pembantu gelisah, tetapi kuasa raja terlalu besar sehingga mereka tak berani memberi saran. Salah satu penasihat, Ki Ageng Ketut Suryo Alam, akhirnya meninggalkan Majapahit menuju Desa Kutu di Wengker. Di sana, ia mendirikan padepokan untuk melatih murid-muridnya dalam kanuragan, membentuk ksatria sejati. Ki Ageng Kutu menyindir kondisi Majapahit melalui kesenian Reog, dengan simbol-simbol bermakna: warok sebagai sesepuh yang dihormati, Singo Barong sebagai sindiran raja sombong, jathilan yang gemulai melambangkan lunturnya semangat keprajuritan, serta Bujang Ganong yang bijak tetapi tak dihargai. Sepeninggal Ki Ageng Kutu, Reog dilanjutkan oleh Ki Ageng Mirah pada masa Bupati pertama Ponorogo, Bathoro Katong. Cerita sindiran diubah menjadi kisah Panji yang menghadirkan tokoh Prabu Kelana Sewandana dan Dewi Songgolangit, mewakili perang Kerajaan Kediri melawan BantarAngin, menjadikan Reog sebagai seni warisan budaya penuh makna.
Sumber: Balai Bahasa Surabaya. (2011). Antologi cerita rakyat Jawa Timur. - Batoro Katong
Asal-usul Reog sendiri bermula dari sindiran Ki Ageng Kutu terhadap Raja Majapahit Prabu Brawijaya V. Dengan berakhirnya kekuasaan Ki Ageng Kutu di Wengker dan dimulainya kekuasaan Raden Bathoro Katong di Ponorogo, Reog disempurnakan dan diangkat menjadi Kesenian asli Ponorogo. Penyempurnaan ini terlihat pada penambahan lambang kepala harimau yang ditambahkan hiasan berupa ekor burung merak yang mengembang dan paruhnya membawa kalung manik-manik yang memberikan Gambaran sebuah alat untuk berdzikir yaitu Tasbih. Reog sebagai seni budaya menjadi media dakwah dalam penyebaran agama Islam di Ponorogo, sejalan dengan kebijakan para Wali Songo dalam upaya menyebarkan Islam di seluruh Indonesia terutama di Jawa. Pada masa Bathoro Katong, kesenian Reog dianggap perlu dilestarikan sebagai alat pemersatu dan pengumpul masa yang efektif sekaligus media informasi dan komunikasi langsung dengan Masyarakat. Musik Gamelan yang pada awalnya digunakan oleh Ki Ageng Kutu untuk mengiringi adu kekuatan dan adu kesaktian ini oleh Raden Bathoro Katong digunakan untuk menarik masyarakat. Ketika Masyarakat mulai berkumpul, Raden Bathoro Katong memulai untuk memberikan ajaran-ajaran tentang agama Islam.
Sumber: Mudhofir, M. H. S., & Mujib, A. (2021, March 23). Peran Bathoro Katong dalam menyebarkan agama Islam di Ponorogo tahun 1496–1517 M. Sejarah Peradaban Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Islam Sultan Agung. - Bantarangin
Aksi teaterikal Kerajaan Bantarangin yang mementaskan kisah cinta Raja Kelono Sewandono dengan Putri Dewi Songgolangit Kerajaan Bantarangin yang merupakan cerita rakyat (folklore). Dyah Ayu Dewi Songgolangit, putri Raja Kediri, memiliki paras cantik bak bidadari hingga membuat Prabu Kelana Sewandana, Raja Bantarangin, jatuh hati dan mengutus patihnya, Bujang Ganong, untuk melamarnya. Namun, perjalanan Bujang Ganong terhenti di perbatasan karena dihadang oleh Singobarong, penguasa tapal batas Kerajaan Kediri yang sering disebut Lodaya. Singobarong yang berkepala harimau mendapat perintah dari raja Kediri untuk memeriksa atau melarang siapapun tanpa seizin sang raja masuk ke wilayah Kerajaan Kediri. Terjadilah pertempuran di mana Bujang Ganong dikalahkan. Kabar kegagalan itu membuat Prabu Kelana Sewandana murka dan memerintahkan pasukan Bantarangin menyerang Singobarong. Setelah persiapan matang, Prabu Kelana Sewandana memimpin langsung pasukannya. Perang besar pun terjadi, dan saat menghadapi Singobarong, Prabu Kelana Sewandana mengerahkan pusaka Cemeti Samandiman yang membuat Singobarong takluk. Singobarong kemudian bersedia membantu menunjukkan jalan ke Kerajaan Kediri. Akhirnya Prabu Kelana Sewandana berhasil menemui Raja Kediri dan menyampaikan maksud mempersunting Dewi Songgolangit. Sang putri ternyata juga menaruh hati pada Prabu Kelana Sewandana, sehingga Raja Kediri merestui mereka menikah. Untuk mengenang kemenangan dan perjalanan tersebut, kemudian terciptalah kesenian Reog yang menjadi simbol kejayaan dan kisah cinta sang raja.
Sumber: Idha, A., Aminah, A., Diah, H., Laila, S., Indrastuti, Y., & Darmadi. (2022). Sejarah dan filosofi Reog Ponorogo versi Bantarangin. Jurnal JRPP, 5(1), Juni. Universitas Pahlawan.