Evolusi Bujangganong dari Kostum, Topeng, hingga Gerak Tari Jenaka

REOG Ponorogo berkembang dinamis. Penari Bujangganong, salah satu figur penting dalam pertunjukan reog, mengalami perubahan mulai kostum, hiasan topeng, hingga gerakan. “Penampilannya semakin menarik dengan gerakan lebih atraktif. Sosoknya yang jenaka menjadi daya tarik tersendiri,” kata Nurhadi Putut Sugito, penari senior Bujangganong, Senin (6/10/2025).

FOTO: DOKUMENTASI KOMINFO PONOROGO

Di era Pete –sapaan Nurhadi Putut Sugito– kerap tampil menari pada dua dekade lalu, kostum Bujangganong amatlah sederhana. Tampilannya mirip pembarong dengan celana berhias rumbai benang warna merah kombinasi kuning. Kimplong (rompi Bujangganong) dikenakan miring seperti selempang diikat tali. “Kostumnya sekarang tampil jauh lebih modern dengan hiasan detail. Punya estetika yang rapi,” ungkap warga Jalan Kawung Ponorogo itu.

Pete juga menjadi saksi evolusi topeng Bujangganong dibandingkan era 1990-an lalu. Bentuk topeng Bujangganong kini menampilkan karakter yang garang dsn gagah berhiaskan rambut yang tertata rapi. Warna topeng juga makin variatif, ada kelurahan merah, putih, dan hitam. “Dulu topengnya terkesan lugu karena saking sederhananya,” terang Pete.

Pelatih tari di Dapur Seni Probo Wengker itu mencermati pula perubahan gerakan Bujangganong. Berawal dari empat pakem berupa sembahan, kacamata, ulap-ulap, dan coklakakan. Penari Bujangganong dulu sebatas melakukan loncatan-loncatan kecil, membentuk simbol kacamata dengan jari tangan, serta gerakan ulap-ulap gagah. “Ending-nya berupa surprise membuka kedua kaki secara bersamaan. Penonton waktu itu sudah tertawa-tawa,” kenangnya.

Sekarang ini gerakan tari Bujangganong semakin atraktif serta akrobatik. Pete menyebutnya karena pengaruh dunia akademis dan tuntutan pertunjukan modern. Mayoritas penari Bujangganong menambahkan elemen akrobatik dengan loncatan tinggi dan improvisasi gerakan yang atraktif. “Gerakannya sekarang lebih kaya, lebih terkonsep, dan terkemas apik. Walaupun begitu, ciri khas gerakan lama masih ada meski porsinya kecil,” jelasnya.

Bagi Pete, perubahan yang terjadi tidak lepas dari perkembangan zaman. Penonton modern cenderung menginginkan sajian yang spektakuler sehingga menuntut penari untuk mengombinasikan antara tradisi dan inovasi. “Bujangganong sekarang tampil atraktif yang membutuhkan stamina lebih. Selain tuntutan gerakan lucu yang membuat penonton semakin terhibur,” ujarnya.

Pun, setiap ruang pertunjukan juga melahirkan gaya berbeda. Dalam pementasan reog obyog, penari Bujangganong lebih bebas berekspresi. Mereka bisa menari lebih lama, melepas topeng, bahkan berinteraksi langsung dengan penonton. Interaksi yang berlangsung kental dengan komedi-komedi untuk membuat penonton terpingkal. “Beda dengan reog festival yang mengatur ketat gerakan penari pada ide garap. Durasi penampilan di panggung festival juga terbatas,” ucapnya.

Kendati begitu, Pete menekankan pentingnya menjaga akar tradisi tarian Bujangganong. Sebab, reog bukan sekadar tontonan namun warisan budaya yang membawa identitas Ponorogo. “Jangan melupakan gerak tradisi lama. Silakan berinovasi agar relevan di era modern, tradisi harus berdampingan dengan pembaruan,” pesannya.

Perjalanan panjang gerak tari Bujangganong dari masa ke masa menunjukkan kesenian mampu bertahan di tengah arus globalisasi. Mulai kostum, bentuk topeng, hingga gerakan yang berevolusi. Dari tampil di panggung desa, festival, hingga event internasional, sosok Bujangganong menjadi simbol kreativitas dan identitas budaya Ponorogo. Terkhusus kesenian Reog Ponorogo yang sudah mendapat pengakuan sebagai Warisan Budaya TakBenda dari UNESCO. (kominfo/mey/nky)