Operasi Batu Empedu Cukup Dengan Sayatan Kecil di RSUD dr Harjono Ponorogo

KAPASITAS RSUD dr Harjono Ponorogo sebagai rumah sakit rujukan semakin kuat. Sebab, tercatat satu-satunya institusi pelayanan kesehatan di wilayah Madiun yang memiliki peranti modern bedah digestif dengan teknologi laparoskopi.

Dokter spesialis bedah digestif hanya membuat sayatan kecil sebelum memasukkan kamera dan instrumen ke dalam rongga perut untuk melihat  serta memperbaiki masalah pada sistem pencernaan.

“Bedah digestif merupakan cabang subspesialistik yang menangani penyakit sistem pencernaan. Mulai dari esofagus (kerongkongan), lambung, usus halus, usus besar, hati, pankreas, kandung empedu, anus, rektum, hingga dinding perut,” kata Heru Iskandar, dokter spesialis bedah digestif di RSUD dr Harjono, Selasa (7/10/2025).

FOTO: TIM KOMINFO PONOROGO

Tidak hanya menangani pasien dengan gangguan pencernaan, fasilitas laparoskopi di RSUD dr Harjono mampu untuk operasi batu empedu. Puluhan pasien sudah menjalani tindakan pengangkatan kantung empedu beserta batu empedunya terhitung sejak Maret 2025. Pasien rujukan datang dari Pacitan, Trenggalek, Madiun, dan Wonogiri.

“Minat terhadap layanan laparoskopi cukup tinggi karena penanganan yang lebih modern, minim invasif, serta mempercepat proses pemulihan pasien. Teknologi laparoskopi memberikan keunggulan besar dibanding operasi terbuka,” terang Heru.

Menurut dia,  hanya butuh sayatan kecil sekitar 1 centimeter atau sebesar lubang kunci untuk memasukkan alat laparoskopi dengan kamera optik yang memberikan visualisasi jelas terhadap organ dalam. Karena itu, pasien dengan kelainan empedu tidak lagi menjalani operasi terbuka melalui sayatan besar. Luka bekas sayatan hampir tidak terlihat dan memungkinkan pasien boleh pulang sehari pasca operasi dalam beberapa kasus tertentu. “Kalau dengan metode operasi terbuka, pasien biasanya harus menjalani perawatan tiga sampai empat hari,” jelasnya.

Selain itu, tindakan operasi menggunakan metode laparoskopi relatif lebih singkat. Jika tidak ada kendala, tindakan laparoskopi dapat selesai dalam waktu sekitar satu jam. Kontraindikasi relatif hanya pada pasien dengan riwayat penyakit paru-paru atau jantung berat. “Selama kondisi bisa dikendalikan, tindakan tetap dapat dilakukan dengan aman,” ungkap Heru.

Dia mencatat tindakan laparoskopi paling banyak adalah operasi kolesistektomi atau pengangkatan kantong empedu. Kendati metode ini juga dapat diterapkan pada berbagai kasus digestif lainnya. “Karena mendapat dukungan penuh dari Kementerian Kesehatan berupa alat-alat terbaru dan canggih, di antaranya, laparoskopi, histeroskopi, dan artroskopi,” ungkapnya.

Sementara itu, Sugianto, kabid Humas RSUD dr Harjono, menyebut rata-rata tindakan operasi digestif antara tiga sampai empat kali sehari. Paling banyak adalah pasien dengan kasus batu empedu. “Untuk tindakan bedah digestif sudah tercover BPJS mulai Agustus 2025,” ujar Sugianto.

Kata dia, RSUD dr Harjono menunjukkan komitmen untuk terus berinovasi melalui layanan  bedah digestif dan laparoskopi. “Selain mengembangkan layanan spesialistik yang lain. Kami berharap RSUD dr Harjono menjadi kebanggaan masyarakat Ponorogo karena sebagai pusat rujukan kesehatan modern di wilayah barat Jawa Timur dan perbatasan Jawa Tengah,” pungkasnya. (tim kominfo)