Beban Kerja Merembet ke Rumah, Dokter Jiwa Peringatkan Bahaya Burnout

WORK life balance menjadi problem sebagian pekerja. Padahal, kegagalan menjaga keseimbangan antara urusan pekerjaan dan kehidupan pribadi itu rentan menimbulkan masalah kesehatan mental. “Muncul stres, kecemasan, hingga burnout akibat beban kerja yang banyak dan menumpuk,” kata Andri Nurdiyana Sari, dokter Spesialias Kedokteran Jiwa di RSUD dr Harjono Ponorogo, Senin (1/12/2025).

Andri cukup banyak menangani pasien burnout. Yakni, penderita dengan kondisi kelelahan fisik, mental, dan emosional yang parah akibat stres berkepanjangan karena tekanan kerja. Dia menyebut handphone yang awalnya alat yang membantu pekerjaan justru berbalik menjadi bumerang.

FOTO: TIM KOMINFO PONOROGO
Andri Nurdiyana Sari, dokter Spesialis Kedokteran Jiwa di RSUD dr Harjono Ponorogo

“HP (handphone) membuat batas antara jam kerja dan jam pribadi semakin kabur. Mayoritas orang kini membawa alat komunikasi itu kemanapun mereka pergi, jam sembilan malam masih harus membalas WA (WhatsApp) grup kantor. Padahal tubuh dan pikiran itu butuh istirahat,” urai Andri.

Andri menjelaskan bahwa tekanan pekerjaan yang terbawa ke rumah menciptakan ruang tanpa jeda. Akibatnya, seseorang terus terhubung dengan tuntutan kantor bahkan saat berada di waktu pribadi. Kondisi itu memicu kelelahan emosional hingga pekerja mengalamai burnout. “Harusnya ada waktu jeda. Waktu beribadah, waktu makan, waktu berkumpul dengan keluarga yang memiliki jam masing-masing. Jangan semua waktu dipakai bekerja,” jelasnya. 

Ketika jeda hilang, risiko burnout akan meningkat. Burnout tidak hanya memengaruhi kondisi mental, tetapi juga dapat berkembang menyebabkan keluhan fisik seperti sakit lambung, pusing, hingga jantung berdebar. Andri menekankan pentingnya peran pimpinan dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat. “Kesadaran bersama antara karyawan dan manajemen menjadi kunci terciptanya budaya kerja yang lebih manusiawi,” terangnya.

Menurut dia, menjaga keseimbangan hidup bukan hanya membuat pekerja lebih bahagia. Namun, juga meningkatkan produktivitas dalam jangka panjang. “Atasan harus memahami bawahannya. Sesekali diberi jeda, diberi ruang untuk istirahat. Kalau dipaksa terus, hasil kerjanya justru tidak maksimal,” katanya.

Meski tidak semua pekerja memiliki kendali penuh terhadap ritme kerja, Andri menyarankan setiap individu mulai menetapkan batasan sehat. Di antaranya, membatasi membalas pesan terkait pekerjaan di luar jam kantor, mematikan notifikasi di jam istirahat, dan menyediakan waktu khusus untuk keluarga serta aktivitas pribadi. Di tengah tuntutan zaman yang serba cepat, Andri mengingatkan bahwa tubuh dan pikiran manusia tetap membutuhkan pola istirahat yang teratur. “Bahkan pekerja bisa memanfaatkan jatah cuti yang mereka miliki. Kita ini bukan mesin. Kalau dipaksa terus, pasti ada titik jenuh,” pungkasnya. (kominfo/mey/nky)