Maknai Hari Ibu, Risma Filter Ketuai Mapala UIN Ponorogo yang Mayoritas Anggotanya Perempuan
DOMINASI perempuan dalam Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Pasca UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo bukanlah kebetulan semata. Dari sekitar 30 anggota Persaudaraan Mahasiswa Solidaritas Pecinta Alam (Pasca) itu adalah mahasiswi. Pasca juga diketuai Risma Nur Fitasari, mahasiswi semester V Prodi Manajemen Pendidikan Islam.
Kiprah lebih para mahasiswi di Mapala Pasca dengan aktivitas petualangan alam ekstrem itu ikut memaknai Hari Ibu di Indonesia. Sebab, Hari Ibu 22 Desember bukan sekadar penghormatan pada sosok ibu. Namun, juga mengusung pesan pemberdayaan dan kesetaraan gender.

SEMANGAT : Susur Goa Pacitan yang dilakukan oleh Mapala PASCA UIN Ponorogo
Risma Nur Fitasari menyebut aktivitas di Mapala Pasca tergolong ekstrem dan menguji adrenalin. Organisasi intra-kampus yang diketuainya biasa melakukan caving (susur gua), jelajah hutan, arung jeram, rock climbing (panjat tebing), serta pelestarian lingkungan lewat pemantauan lahan pertanian multipihak (PLPM). “Tantangan itu justru menjadi ruang pembuktian diri. Perempuan membuktikan mampu melakukan hal-hal yang tidak ringan. Kegiatan di alam yang menantang juga bisa kami jalani tanpa beda dengan laki-laki” kata Risma “Filter” –sapaan Risma Nur Fitasari–, Minggu (21/12)2025.
Dia tidak memungkiri anggota Mapala Pasca yang mayoritas perempuan menghadapi tantangan terbesar berupa kekuatan fisik. Namun, kendala itu dapat disikapi dengan disiplin latihan dan persiapan yang matang. Sebelum berkegiatan di alam bebas, Risma Filter dkk biasa melakukan analisa medan
“Karena menyangkut keselamatan nyawa juga. Fisik perempuan dan laki-laki memang berbeda, maka kami harus berlatih lebih keras untuk membentuk stamina,” terang Risma Filter.
Kata dia, ruang-ruang aktivitas ekstrem kini semakin inklusif bagi perempuan. Risma Filter berani menjamin bahwa dominasi perempuan tidak mengurangi kesiapan anggota Mapala Pasca menaklukkan tantangan alam. “Mapala Pasca dalam beberapa periode terakhir dipimpin oleh perempuan. Kepemimpinan perempuan membawa pendekatan yang lebih komunikatif dan penuh perhatian,” tegasnya.
Mapala Pasca belakangan ini getol mengembangkan rock climbing. Selain membentuk fisik dan mental dengan olahraga panjat tebing, anak-anak Mapala Pasca juga mengejar prestasi dalam kejuaraan antar kampus maupun kejurprov serta kejurnas. “Kami ingin melahirkan atlet panjat tebing. Prestasi yang diraih juga membawa dampak positif bagi citra kampus dan organisasi,” ujarnya.
Pun, Mapala Pasca aktif pula dalam pelestarian lingkungan. Yakni, pemulihan kawasan hijau di Munggu (Kecamatan Bungkal) dan Gunung Cumbri. Bahkan, turun tangan langsung dalam upaya konservasi air. “Berawal dari eksplorasi gua di Pacitan, anggota Mapala Pasca menemukan mata air. Sekarang airnya dapat dimanfaatkan oleh warga sekitar yang sebelumnya sering terdampak kekeringan,” ungkapnya.

Risma Filter mencermati ada perubahan positif bagi kepribadian para mahasiswi yang aktif di mapala. Yakni, lebih berani keputusan, terbiasa berpikir kritis, dan piawai mengatasi rasa takut. “Semua itu menjadi bekal penting dalam menjalani kehidupan sehari-hari,” tegasnya.
Pihaknya mengusung pesan bahwa keberanian, ketangguhan, dan kepedulian terhadap lingkungan tidak mengenal batas gender. Perempuan memiliki kekuatan yang sama dengan laki-laki jika mau berlatih. “Tidak masalah mayoritas anggota Mapala Pasca saat ini perempuan. Ini kuga terjadi hampir di seluruh UKM (unit kegiatan mahasiswa) di UIN Ponorogo,” pungkasnya. (kominfo/nky/mey)