Breaking News
  • Home
  • News
  • Bambu Runcing Senjata Andalan Sihman Dalam Menumpas Belanda Kala Itu

Bambu Runcing Senjata Andalan Sihman Dalam Menumpas Belanda Kala Itu

By on August 17, 2018 0 434 Views

Lelaki tua sedang duduk di teras rumahnya yang menghadap ke timur. Rumahnya yang berada di Kelurahan Kauman Kota Ponorogo yang berdinding merah tampak menyala dibanding rumah yang ada didekatnya. Langkah yang tertatih sambil menyapa saya saat berkunjung ke rumahnya. Dia sudah berusia mendekati satu abad. Jalannya mulai terseok seolah termakan usia dan pendengarannya mulai berkurang. Namun tampak dia masih segar dan sehat. Nampak tangannya bergaris dengan telapak jari mengeras bekas memegang senjata dan bambu runcing.

Sihman Hadi Soemarto saat memperlihatkan kartu veteran

Sambil mata terpejam ia mencoba kembali mengingat serpihan kejadian yang sempat tersimpan di memori ingatannya. Setelah menit kemudian ia menceritakan detik-detik pengiriman ke Surabaya menghadapi Belanda pada 1946 silam. Dentuman bom menggelegar, letusan senjata menderu. Itu menjadi makanannya sehari-hari. Itu tidak membuatnya gentar. Hanya memegang bambu runcing, baginya hidup di bawah jajahan Belanda tak ada artinya. ‘’Ini cerita yang coba saya ingat, maklum ya, sudah tua,’’ kata Sihman Hadi Soemarto pasukan laskar hasbullah yang termasuk anggota veteran Indonesia.

Sihman sapaan Sihman Hadi Soemarto memiliki moto ‘’mati surga, hidup mulia’’ tertanam kuat dijiwa. Itulah yang menggelorakan semangatnya mengutuk penjajahan Belanda waktu itu. Meski dirinya yang memiliki berperawakan kecil, namun dia dipercaya memimpin 55 pasukan laskar hisbullah dari empat wilayah. Di antaranya Tambakbayan, Brotonegaran, Kauman (Kota), dan Paju. Tiap hari dia menggelar latihan di lapangan Desa Brotonegaran. Begitu gamblang ingatannya terurai saat menceritakan memori masa lalunya melewati tiga jaman. Mulai jaman penjajahan Jepang, Belanda hingga kemerdekaan Republik Indonesia. Dipanggil untuk latihan di Batalion dibina langsung Mayor Prapto Sukowati (sekarang monumennya di simpang lima Keniten, Red).

Ia bersama ratusan pasukan lainnya dari Ponorogo dia menjalani latihan kemiliteran di Batalion Yudo (sekarang kodim 0802, Red) di bawah komando Mayor Prapto Sukowati. Itu dilakukan sebelum dikirim untuk menghadapi serangan Belanda di Surabaya 1946 silam. Masih pekat diingatannya, saat Mayor Suprapto Sukowati menepuk pundaknya. Lantas berkata, ‘’masih kecil kok berani, hati-hati ya.’’ Kata-kata itu yang seolah membuatnya tidak gentar menghadapi dentuman bom dan deru letusan senjata. ‘’Berangkat naik kereta api dari stasiun sini (sekarang pasar eks stasiun, Red),’’ ungkap kakek 16 cucu 9 buyut itu

Dia masuk dalam barisan gerilya yang menyerang mengendap pada malam hari. Siang hari, dia nyamar jadi rakyat jelata sebagai petani biasa. Belum sampai di Surabaya dia harus tertahan di daerah Krian tepatnya di Desa Wonoayu. Itu dilakukan sebelum menjebol Mojokerto yang sudah dikuasai Belanda. Sudah tidak terhitung berapa tentara Belanda yang tewas di ujung bambu runcing yang digenggam Sihman. Selama satu bulan penuh dia menghadapi situasi perang yang sewaktu-waktu merenggut nyawanya. Setelah situasi kondusif, dia kembali ke tanah kelahirannya. ‘’Pernah hampir kena tembak, tapi untungnya dapat menghindar. Kalau malam biasanya tentara Belanda berkeliaran di masjid-masjid. Kami sembunyi dan langsung menyerangnya,’’ ungkap suami Nur Jannah itu. (Kominfo/fdl)

  News
Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *