Bedingin Ruwatan Untuk Rawatan Desa

Bedingin Ruwatan Untuk Rawatan Desa

Bedingin Ruwatan Untuk Rawatan Desa

Comments Off on Bedingin Ruwatan Untuk Rawatan Desa

Acara Ruwatan di Desa Bedingin Kec.Sambit

Sambit- Desa Mawa Cara Negara Mawa Tata, istilah Jawa ini memiliki arti desa memiliki cara atau tradisi dan negara mempunyai tatanan atau peraturan.

Maka dalam adat Jawa, setiap tradisi di desa yang satu akan berbeda dengan adat dan tradisi yang beredar dan berkembang di desa lainnya. Seperti halnya di Desa Bedingin, Kecamatan Sambit, memiliki tradisi Ruwatan untuk lingkungan atau desa.

“Ruwatan Desa ini berbeda dengan ruwatan diri atau keluarga,” terang Marjuki, disela sela acara Pagelaran Wayang Ruwat, Rabu, 25 Okt 2017.

“Ruwatan diri atau seseorang atas kesialan dilakukan pada pagi hingga siang. Sedang Ruwatan Desa atau lingkungan dilaksanakan pada malam hari”, lanjutnya.

Ruwatan dalam adat Jawa memang memiliki pengaruh besar pada keyakinan adat Jawa. Ruwatan ini merupakan tradisi mengusir hawa jahat atau unsur negatif seseorang yang berdampak pada nasib diri atau menimpa sebuah daerah. Seperti wabah dan sukerta lain. “Maka, Ruwatan yang dilaksanakan Desa Bedingin ini sebuah harapan dan doa semoga Desa Bedingin terhindar dari Sukerta dan marabahaya, rakyatnya ayem tentrem tidak kurang dari apapun,” ungkap Marjuki.

Ruwatan dengan pagelaran Wayang bertema Murwakala dengan bertindak sebagai Dalang Ruwat Ki Dhalang Bhentung dari Duri Slahung Ponorogo, merupakan sebuah tradisi yang telah dilakukan oleh nenek moyang sejak dulu.

Dalam ruwatan ini, tidak semua dalang bisa melakukan. Sebab ada ritual ritual khusus sebelum pagelaran wayang dilakukan oleh dalang. Demikian juga pada waktu pelaksanaan pagelaran wayang.

“Meski dalang hanya bersifat pembimbing spiritual akan acara ruwatan, tapi dalang dan crew ada ritual khusus sebelum ruwatan yang kita tidak tahu jalan ritualnya,” terang Marjuki.

Wayangan Ruwat Lakon Murwakala adalah cerita tentang lahirnya Bathara Kala. Bhathara Kala adalah anak dari Bhathara Guru, yang lahir karena nafsu birahi yang tak tertahan oleh Bhathara Guru ketika menyaksikan Dewi Uma. Sehingga sepermanya menetes di laut dan lahirlah Bhathara Kala. Orang Jawa menamakan Nafsu Salah Kang Gumulung. (Kominfo/Jgo)

About the author:

Alamat

themecircle

Tentang Ponorogo

Back to Top