Breaking News
  • Home
  • Pariwisata
  • Begini Jadinya Kalau Rahasia Kopi Dibongkar di Ponorogo

Begini Jadinya Kalau Rahasia Kopi Dibongkar di Ponorogo

By on February 23, 2019 0 170 Views

KAGUM bercampur heran. Begitulah reaksi warga dan anak muda Ponorogo saat rahasia rasa-rasa dan aroma kopi dipaparkan oleh para ahlinya di depan umum. Hadirnya rasa buah-buahan, nikmatnya kepahitan kopi sampai cara menikmati minuman ini pun jadi wawasan baru para penduduk Bumi Reyog.

Warga dan kawula muda Ponorogo antusias melihat para barista kopi menyeduh bubuk kopi menjadi minuman nikmat di ajang Ngopi Bareng, Sabtu (23/2/2019) di Taman Kelono Sewandono.
Warga dan kawula muda Ponorogo antusias melihat para barista kopi menyeduh bubuk kopi menjadi minuman nikmat di ajang Ngopi Bareng, Sabtu (23/2/2019) di Taman Kelono Sewandono.

Semua ini terbongkar dalam Ngopi Bareng yang digelar di Taman Kelono Sewandono, Sabtu (23/2/2019) malam. Malam mingguan di pekan terakhir Februari ini jadi lebih gayeng karena di lokasi yang dulu sering disebut sebagai taman kota hadir 25 stan kopi. Baik dari Ponorogo maupun dari daerah-daerah sekitar.

Pada acara yang baru pertama kali digelar di Ponorogo ini, sejumlah barista atau penyaji kopi hadir langsung dan mempraktekkan pembuatan kopi yang bisa memberikan rasa dan aroma yang sangat beragam. Mulai dari kopi tubruk sampai capucino dan americano. Bahkan grinding atau menggiling kopi pun diperagakan langsung di depan para pengunjung.

Tak ayal, 1.500 voucher kopi gratis ludes dan selesai ditukarkan ke stan yang ada hanya dalam waktu 1,5 jam dari dimulainya acara sekitar pukul 20.00 WIB. Apalagi taman yang dulu remang-remang kini makin semarak dan makin ramai dengan hiburan musik.

Yos, salah satu barista asal Ngawi menyatakan, Indonesia dan Ponorogo harus bersyukur karena ternyata Indonesia memiliki seluruh varietas kopi di dunia. Bahkan, kopi liberica yang hanya 3 persen populasinya di dunia bisa ditemukan di Ponorogo.

“Jadi memang sudah waktunya kita melestarikan kopi ini. Sebab dengan cara yang benar, tanpa meningkatkan jumlah produksi, petani kopi kita bisa terbantu ekonominya. Karena kopi bukan hanya soal minum, tapi sudah jadi gaya hidup,” ungkapnya.

Pegiat kopi lain, Anggi menceritakan, untuk mendapatkan rasa kopi, ada waktu dan suhu tertentu yang harus dipenuhi. “Tidak selamanya harus air mendidih atau 100 derajat celcius, 85 derajat dengan waktu beberapa menit juga bisa menimbulkan rasa yang berbeda,” ujarnya.

Yang cukup menarik adalah saat Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni turut cupping atau mencicipi kopi-kopi racikan para barista tersebut. Orang nomor satu di Ponorogo ini pun mendapatkan tips untuk mencicipi kopi. Yaitu dengan mencecap kopi melalui tepian lidah secara cepat.

“Kalau caranya benar seperti ini, rasa kopi akan bisa muncul dengan tepat pula,” ungkap Anggi diamini Bupati Ipong yang berkali-kali memberikan isyarat bahwa kopi yang di-cupping-nya cukup nikmat.

Sejumlah warga mengaku baru mengerti bahwa cara menyeduh dan meracik kopi serta menikmatinya sangat beragam dan ada caranya. Beberapa tampak manggut-manggut, beberapa tampak penasaran. Dan, begitu demo cupping di depan panggung berakhir, tampak para warga kembali mendekati stan-stan yang ada untuk mencicipi kopi dengan cara yang baru saja mereka ketahui.

Sejumlah youtuber yang hadir juga tampak kembali merapat ke stan-stan yang ada untuk mengabadikan aksi sejumlah barista kopi yang memperagakan penyeduhan kopinya. (kominfo/dist)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *