Breaking News
  • Home
  • News
  • Belajar Berkebun Agar Tak Perlu Lagi Merantau

Belajar Berkebun Agar Tak Perlu Lagi Merantau

By on July 18, 2018 0 381 Views

TIDAK BEROTOT tapi tangan itu begitu kuat menggenggam cangkul. Pelan tapi pasti, tanah, arang sekam dan tanah plus dolomit tercampur menjadi gundukan media tanam holtikultura siap pakai. Sedikit demi sedikit tempat tumbuh tanaman buah dan sayur ini pun berpindah ke planter bag yang disediakan.

Tangan Nurdiana alias Ani memang halus dan tanpa otot. Wanita 33 tahun warga Dusun Ngijo, Desa Lembah, Kecamatan Babadan, itu belum genap satu tahun kembali dari Hongkong. Lebih dari 12 tahun dia berada di negeri pearl of orient sebagai pekerja rumah tangga. Cangkul dan sekop serta tanah adalah barang asing yang tak ditemuinya selama menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) atau Tenaga Kerja Wanita (TKW).

Namun, Nurdiana yang berasal dari keluarga petani tetap cekatan mengolah tanah saat melakukan praktek lapang dalam Pelatihan Terintegrasi Untuk TKI Purna dan Keluarganya tahun 2018 Kabupaten Ponorogo yang diselenggarakan di Desa Lembah sejak 14 Juli lalu.

Nurdiana (kemeja kotak-kota merah) dan 24 TKI Purna peserta pelatihan saat praktek mengaduk media tanam untuk penanaman benih alpukat. Pelatihan dilaksanakan di persawahan Desa Lembah, Babadan, Ponorogo, Rabu (18/7/2018).

Bersama 24 TKI Purna atau mantan TKI beserta keluarganya yang didominasi ibu-ibu yang telah berumur, selama sepekan terakhir Nurdiana mendapatkan pelatihan dengan materi utama manajemen keuangan dan materi lain berupa pelatihan bercocok tanam buah dan sayuran alias holtikultura.

“Ya karena kami di sini (Desa Lembah) adalah keluarga petani, maka kami senang mendapat latihan bertani ini. Ini ilmu yang berharga dan mengasyikkan,” ungkap Nurdiana yang Rabu (18/7/2018) pagi itu mengikuti praktek lapangan dengan celana jins, kaos hitam berbalut kemeja kotak-kotak dan sepatu sneaker hitam dengan sedikit kerlip di permukaannya.

Baginya, keterampilan bercocok tanam holtikultura yang diraupnya kali ini akan dipadukan dengan ilmu tentang mengatur keuangan dari pemateri-pemateri sebelumnya. Dengan begitu, pundi-pundi rupiah yang didapatkannya selama bekerja di negeri rantau bisa bertambah tanpa harus kembali menjadi pekerja migran.

“Saya sudah 12 tahun di sana (Hongkong). Saya berangkat karena alasan ekonomi. Sekarang saya rasa tabungan saya sudah cukup, maka saya sudah tidak ingin kembali ke sana. Cukup di sini. Saya akan manfaatkan lahan yang ada di belakang rumah. Mungkin bukan kebun buah yang besar, tapi tegalan yang menghasilkan,” ucap perempuan yang sedang mendambakan putera ini.

TKI Purna peserta pelatihan saat praktek memasukkan media tanam ke planter bag untuk penanaman benih alpukat. Pelatihan dilaksanakan di persawahan Desa Lembah, Babadan, Ponorogo, Rabu

Nurdiana sendiri sebenarnya ingin memulai usaha kuliner. Ia ingin memiliki keterampilan bidang masak-memasak, baik kue-kue basah, kue kering maupun macam-macam menu. “Yang ada baru soal holtikultura, dan ternyata menarik juga,” ungkapnya sambil berharap ada materi pelatihan soal keterampilan kuliner di lain waktu.

Ketua Pelaksana Pelatihan, Endang Widayati mengatakan, pelatihan untuk para TKI purna dan keluarganya ini dilaksanakan agar para TKI memiliki berbagai keterampilan yang membawa pada kesejahteraan keluarganya. Selama sepekan, para pemateri telah memberikan berbagai ilmu dant eori tentang pengelolaan keuangan, cara menabung yang benar dan keterampilan holtikultura sesuai dengan kondisi geografis desa setempat.

“Nah, harapannya, para TKI purna tidak kembali lagi ke luar negeri. Mereka bisa memanfaatkan lahan di sekitar rumahnya. Bahkan, ada rencana untuk mengintegrasikan kemampuan mereka nanti dalam budidaya holtikutura dalam rencana pembangunan pemerintah Desa Lembah untuk memanfaatkan lahan milik desa di tepi-tepi jalan,” ungkap Endang.

Para TKI Purna peserta pelatihan saat medapatkan materi sambung pucuk dari pemateri holtikultura. Pelatihan dilaksanakan di persawahan Desa Lembah, Babadan, Ponorogo, Rabu (18/7/2018).

Para TKI yang masih dalam pelatihan ini sudah ingin menanami lahan-lahan kosong dengan pohon alpukat yang diyakini memiliki nilai ekonomis tinggi dan tanaman juwet kerikil yang sudah langka.

“Jadi para TKI purnam keluarga dan desa akan sinergi untuk meningkatkan kesejanteraan sekaligus membudidayakan tanaman yang sudah langka, ya itu, juwet kerikil,” kata Endang.

Nurdiana dan para ‘lulusan’ Hongkong, Taiwan, Korea dan Arab Saudi lainnya memang sudah tidak lagi muda. Namun semangat dan antusiasme mereka tidak perlu diragukan lagi. Beradu dengan tanah, berpeluh keringat, dan menantang terik mentari di tengah sawah tempat berlatih bukan halangan.

Sebab, sejahtera di tanah kelahiran tetap merupakan dambaan. Sebab, itulah alasan terkuat untuk tidak lagi berangkat ke negara tetangga atau yang lebih jauh lagi. (kominfo/dist)

  News
Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *