Breaking News

Berkarya Tak Mengenal Umur

By on February 1, 2018 0 351 Views

Mbah Misdi memperlihatkan hasil karyanya

Usia boleh senja tapi tidak menjadi penghalang untuk tetap berkarya, kata kata itu mungkin patut di sematkan kepada Mbah Misdi (85 tahun) atau lebih di kenal dengan Mbah Doweh, Pria yang sudah tidak muda lagi ini adalah salah satu pengerajin tertua souvernir Reyog Ponorogo di Kabupaten Ponorogo.

Berlokasi di jalan Larasati, Surodikraman Ponorogo, Mbah Misdi merintis usaha pengrajin souvenir reyog tersebut. Mbah Misdi mungkin sudah tidak asing lagi di kesenian Reyog Ponorogo, semenjak berumur 11 tahun ia sudah terjun di kesenian Reyog Ponorogo.Semakin bertambahnya umur, Mbah Misdi memutuskan untuk menjadi pembuat souvernir Reyog Ponorogo, karena ia melihat raga yang semakin tua dan tetap melestarikan kesenian Reyog Ponorogo.

Mbah Misdi melakukan aktivitasnya

Tahun 1971 berawal dari pemikiran untuk menghidupi keluarga mbah Misdi mulai membuat  topeng bujang ganong (salah satu tokoh di tari Reyog) dan ternyata dari hasil karyanya dilirik oleh pembeli. Tanpa disangka kreatifitasnya dalam berkarya dihargai oleh masyarakat disekitar ponorogo, hal itu memotivasi mbah Misdi untuk terus berkarya hingga sekarang.

Zaman modern seperti sekarang ini membuat mbah Misdi lebih kreatif dalam memodifikasi karyanya dari membuat pigura Reyog, souvernir kepala barongan, gantungan kunci, hingga perlengkapan reyog lainnya.

Aktivitas di gerai Mbah Misdi

Aktivitas di gerai Mbah Misdi

47 tahun sudah ia menggeluti pekerjaan sebagai pengrajin souvernir. Karyanya sudah memasuki pasar di lokal Ponorogo, pasar luar Ponorogo, dan pasar internasional. Karya  yang bervariatif memancing minat pembeli dari kalangan anak-anak hingga lansia. Karya yang masih terbilang terjangkau mulai dari gantungan kunci bermotif Reyog yang di jual dengan harga 5.000 rupiah , hingga pigura berharga 135.00 sampai 300.000.

Proses pembuatan souvernir reyog ini rata-rata menggunakan kayu dadap.”Karena kayu dadap kuat ulet dan tahan lama” ungkapnya kepada kami. Dalam seminggu Mbah Misdi dapat memproduksi 10 bingkai reog yang berisi semua tokoh-tokoh reyog.Untuk proses produksi sendiri Mbah Misdi di bantu oleh beberapa orang anaknya.

Penjualan dan pemesanan melonjak pada waktu menjelang Bulan Suro (1 Muharram). Karena banyaknya pemesanan untuk souvenir reyog dan dipasok ke pedagang yang berada di Kabupaten Ponorogo untuk di jual kepada wisatawan yang ke Ponorogo untuk menyaksikan Rangkaian Acara Grebeg Suro.

Dari banyaknya pemesanan raga tua Mbah Misdi tidak sanggup lagi untuk memproduksi. Melihat kondisi tersebut Mbah Misdi melatih anak serta cucunya untuk membantu dalam produksinya. Disamping membuat kerajian souvenir reyog Mbah Misdi juga menerima perbaikan barongan, merak, serta peralatan reyog lainnya. (kominfo/fdl)

  News