Bukan Sebuah Pameran

Bukan Sebuah Pameran

Bukan Sebuah Pameran

Comments Off on Bukan Sebuah Pameran

Seniman memang harus banyak akalnya, dengan demikian kreatifitas tidak akan berhenti.
Semakin banyak karya, akan banyak bermunculan ide ide kreasi”, begitulah tutur Didin seorang perupa dari Madiun yang memasarkan karyanya di Ponorogo.

Didin memang bukan pelukis terkenal, yang memiliki karya dengan harga puluhan juta. Maka dia cukup memasarkan lukisannya di pinggir jalan. Karya lukisannya juga beragam sesuai selera para pemesannya.

“Harga lukisan itu berfariasi, Mas,” tuturnya.

Didin memberikan tarif pada karya lukisnya, sesuai dengan bahan. Rata rata bapak satu anak ini menjual karyanya paling mahal 600 ribu rupiah. Bahan yang ia pakai adalah kanvas sederhana. Sedangkan pewarnaan ia memakai cat besi.
Sedangkan untuk foto, hitam putih didin mengerjakan 1 jam sampai 2 jam. Harga yang ia pathok setiap poto hitam putih dengan ukuran standart, 100 ribu rupiah.

Harga yang demikan menurut Didin adalah harga yang sangat murah. Sebab yang dirinya cari hakekatnya bukan hasil nilai rupiahnya, tapi banyaknya karya.

“Dengan selalu berkarya, ide kita tidak tumpul, sehingga inspirasi karya tidak hilang,” terangnya.

Terdorong dari keinginan banyak karya yang dinikmati orang, Didin 6 bulan ini nekat berkarya di pinggir jalan Kota Ponorogo. Meski tidak memanfaatkan ruang gedung untuk memajang karyanya, tiap bulan Didin mampu menjual karyanya 5 – 10 biji.

“Bukan sebuah pameran, tapi sekedar jalan berkarya,” terangnya. (Kominfo)

About the author:

Alamat

themecircle

Tentang Ponorogo

Back to Top