Breaking News
  • Home
  • Slider
  • Capai ODF 100 Persen, Wabup Ingin Semua Tingkatkan Kesadaran

Capai ODF 100 Persen, Wabup Ingin Semua Tingkatkan Kesadaran

By on November 28, 2018 0 140 Views

KESADARAN untuk menjaga sistem sanitasi dan kebersihan lingkungan perlu terus ditingkatkan. Utamanya untuk menuju pada 100 persen ODF (Open Defecation Free) atau terbebas dari warga yang melakukan Buang Air Besar Semarangan (BABS).

Hal ini disampaikan Wakil Bupati Ponorogo Soedjarno terkait capaian ODF di Ponorogo yang hingga saat ini baru mencapai 157 desa/kelurahan atau 51,14 persen dari seluruh desa/kelurahan di Ponorogo. Wabup Soedjarno menyatakan prihatin dengan kondisi ini sebab menurutnya hal yang paling penting untuk menuju ODF 100 persen adalah kesadaran untuk tidak BAB di sembarang tempat alias bukan di jamban.

Wabup Ponorogo Soedjarno saat memberikan pengarahan terkait kondisi sanitasi dan ODF di Ponorogo.

“Seandainya kita semua sadar, tidak perlu dana yang besar untuk ODF (100 persen). Paling utama kesadaran dan kemauan kita untuk bisa tidak BABS,” ungkap Wabup Soedjarno usai Deklarasi ODF Kecamatan dan Kelurahan/Desa di Ponorogo yang digelar di Pendopo Kecamatan Babadan, Selasa (27/11/2018).

Karena itu, Wabup Soedjarno mengajak semua elemen masyarakat dalam setiap kesempatan dan setiap kegiatan bisa membahas pentingnya ODF dan menghindari perilaku BABS. Gerakan ODF harus bisa dilaksanakan seluruh masyarakat dari berbagai lapisannya.

Hal ini mengingat bahaya dari BABS yang mengakibatkan adanya kotoran yang tidak terbuang pada tempatnya. Akibat tersebut karena kotoran manusia mengandung banyak bakteri dan virus penyakit.

Kepala Dinkes Ponorogo Rahayu Kusdarini saat memaparkan pentingnya ODF dan menghindari perilaku BABS jelang Deklarasi Kecamatan dan Desa/Kelurahan ODF di pendopo Kecamatan Babadan, Selaaa (27/11/2018).

Menurutnya, para kepala desa, pengurus PKK, ibu-ibu arisan, warga pengajian, didukung TNI dan Polri bisa menjadi tulang punggung dari pemasyarakatan kedaran untuk tidak BABS ini. Bahkan, kades sebagia pimpinan wilayah di desa harus juweh atau tidak bosan-bosannya mengingatkan warganya terkait perilaku BABS ini.

Bahkan, Wabup Soedjarno sempat berkelakar agar pelaku BABS difoto saja lalu disebar. Hal ini untuk memunculkan efek malu dan segera merubah perilaku yang kurang baik itu menjadi lebih baik.

“Sudah bukan zamannya lagi methongkrong di atas sungai. Ini mengingat bahaya dari kotoran manusia yang bisa sampai mengakibatkan stunting dan penyakit-penyakit berbahaya lainnya,” tegasnya.

Untuk daerah-daerah yang masuk kategori sangat jauh dari ODF, yang sebanyak 26 desa di Ponorogo, Soedjarno yakin bisa segera diatasi, terutama bila ada kemauan yang besar. Apalagi dari TNI dan Polri selalu siap membantu.

“Apakah itu CSR atau yang lain yang untuk sanitasi. Dari dari Dinkes dan Perkim (Dinas Permukiman) juga ada untuk melaksanakan,” ungkapnya.

Data Dinas Kesehatan Kabupaten Ponorogo menyebutkan hingga saat ini daerah ODF mencapai 157 desa/kelurahan atau 51,14 persen dari seluruh desa/kelurahan di Ponorogo yang jumlahnya 307 buah. Sebanyak 44 desa ODF dicapai di 2018. Desa/kelurahan yang berpotensi ODF sebanyak 49 atau 15,96 persen. Desa/kelurahan yang masuk kategori jauh dari ODF ada 75 desa atau 24,43 persen jumlah desa dan yang sangat jauh dari ODF ada 26 desa 8,47 persen dari jumlah desa di Ponorogo.

Sedangkan jumlah keluarga yang telah memiliki akses ke jamban sehat mencapai 91,43 persen dari keluarga. Dan yang beum meiliki akses ke jamban sehat atau masih BABS ada 8,7 persen atau 28.012 KK. (kominfo/dist)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *