Breaking News
  • Home
  • News
  • Cerita Thomas Suyanto Korban Selamat Gempa Palu Asal Ponorogo

Cerita Thomas Suyanto Korban Selamat Gempa Palu Asal Ponorogo

By on October 8, 2018 0 372 Views

Bencana alam Gempa Bumi dan Tsunami yang melanda Palu dan Donggala menelan ribuan bahkan ratusan ribu korban warga masyarakat Palu dan Donggala. Ada masyarakat Ponorogo yang berada di Palu, salah satunya korban yang selamat adalah Thomas Suyanto (37 tahun) yang bertempat tinggal di Jl. Batu Bata Indah, Tatura Utara, Kabupaten Palu (Belakang Ramayana Mall). Thomas yang asli warga Desa Baosan Kidol, Kecamatan Ngrayun, Kabupaten Ponorogo.

Kepada ponorogo.go.id Thomas mengaku telah tinggal disana sejak satu setengah tahun yang lalu, dirinya disana bekerja sebagai pedagang mie ayam dan bakso di dekat Ramayana. “Saya sudah tinggal di sana (Palu) sudah sejak satu setengah tahun lalu, dan saya mengontrak sebidang tanah dengan luas 8×15 meter persegi untuk tempat tinggal dan usaha,” ungkapnya, Senin (8/10).

Thomas dan keluarga korban selamat Gempa Palu Sulteng tiba di kampung halaman Ds.Baosan Lor Kec.Ngrayun

Thomas saat ditanya waktu kejadian gempa melanda Palu mengungkapkan, gempa itu terjadi awalnya dipagi hari jam setengah 9 WITA sudah ada gempa dan berhenti, namun cuaca pada hari itu sangat berbeda dengan hari – hari biasanya. “Cuaca pada siang harinya itu panas gak seperti biasanya mas, dan tidak ada angin sedikitpun,” ingatnya.

Lanjut bapak dua anak itu menuturkan, pada jam 17:00 WITA menjelang magrib ada awan hitam pekat dan angin besar serta dibarengi guncangan gempa 7,4 SR gempa itu terjadi selama 3 menit. Pada saat itu dirinya sedang mandi serta istri dan dua anaknya sedang menjaga dagangannya. “Pada saat kejadian itu saya lagi mandi, dan saya langsung spontan lari dengan telanjang bulat, setelah berjalan ada 3 meter saya baru keingat kalau telanjang saya langsung mengambil handuk untuk menutup aurat,” ungkapnya sambil ketawa.

Pada kejadian itu istri Thomas Suyanto, Inuk Sarmini sudah tertimpa sepeda motor yang sedang terparkir. Lantas Thomas menyelamatkan istri dan kedua anaknya kemudian mereka berlari ke Bandara untuk menyelamatkan diri. “Saya keluar sudah melihat istri tertimpa sepeda motor sambil mengendong anaknya yang umur 6 bulan, serta anak pertamanya sedang memegangi motor untuk membantu ibunya,” pungkasnya.

Setelah ia menyelamatkan istri dan anaknya ia lantas berpakaian dan berlari ketempat yang merasa aman. Ia berjalan ke arah bandara dengan jarak 7-10 KM dari rumahnya. “Saya langsung inisiatif untuk lari ke bandara karena disana tidak ada pohon atau apapun dan tempatnya lebih tinggi,” pungkasnya.
Dalam perjalanan ke bandara ia melihat bangunan roboh, jalan retak dan disamping itu juga juga masih ada goncangan gempa. “Saya melihat bangunan pertokoan yang roboh, rumah, dan jalan retak, pada saat ada goncangan gempa kami berhenti, perjalanan sekitar satu jam, dan kami tiba di bandara pukul 19:30 WITA,” jelasnya.

Selama di pengungsian 3 hari 2 malam dirinya tidak membawa barang apapun dan selama di pengungsian ia cuman makan kue dan makanan ringan. “Saya selama dipengungsian tidak ada makan, cuma dapat kue dan 2 aqua gelas itupun kami bagi berempat, karena waktu itu belum ada bantuan yang masuk,” tungkasnya.

Dihari ketiga di pengungsian ada pesawat herkules yang mengangkut korban untuk ke Makasar, dan pada saat itu yang lebih diutamakan wanita, anak kecil, orang tua, dan korban luka. “Saya kan membawa dua anak mas, jadi saya ikut rombongan herkules waktu itu untuk ke Makasar,”jelasnya.

Setelah sampai di Makasar dirinya mendapat bantuan makanan, dan menunggu penerbangan herkules menuju Jakarta. Selama waktu menunggu itu, ada masyarakat yang memberikan uang kepadanya untuk ongkos pulang. Setibanya di Jakarta dirinya mencari taxi untuk pergi kerumah saudara yang ada di Jakarta dengan bantuan uang dari orang yang ditemuinya, “Saya sebut orang itu malaikat mas, karena telah mengasihkan saya uang Rp 500 ribu rupiah untuk ongkos pulang katanya. Karena saya gak bawa uang sama sekali. Hingga saya sekarang sampai Ponorogo,”jelasnya. (Kominfo/fdl)

  News
Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *