Desa Bedingin Menyimpan Situs Mataram Kuno

Desa Bedingin Menyimpan Situs Mataram Kuno

Desa Bedingin Menyimpan Situs Mataram Kuno

Comments Off on Desa Bedingin Menyimpan Situs Mataram Kuno

Bedingin merupakan sebuah desa yang ada di wilayah selatan kota. Bedingin masuk pada wilayah Kecamatan Sambit.

Desa yang memiliki 2 Dukuh, yakni, Dukuh Krajan dan Dukuh Karang Rejo yang terbagi lagi menjadi 17 Rukun Tetangga dengan luas wilayah 200, 092 HA. Desa yang berbatas dengan Kec. Bungkal ini ternyata menyimpan situs yang memiliki nilai sejarah. Situs tersebut adalah sebuah Patung yang berupa gambar kepala, yang sekitarnya ada batu batu persegi panjang.

Menurut Marjuki, Kepala Desa Bedingin, patung tersebut telah ada di situ sejak ia masih kecil.
Patung yang terletak di samping pemancingan Beji Sirah Keteng tersebut, menurutnya merupakan sebuah peninggalan jaman Hindu. “Kalau menurut masyarakat ini, Patung tersebut adalah petilasan Mataram Hindu. Yakni penghambaran kepala Prabu Boko”, tuturnya.
Bahkan, nama sirah keteng itu juga di ambil dari keberadaan Patung tersebut.

Sirah Keteng, Legenda dan Mitos.
Masyarakat Desa Bedingin, dengan mata pencaharian bertani, memiliki legenda yang beredar terkait Beji dan Situs sirah keteng tersebut.

” Kalau menurut masyarakat, ada 3 versi legenda yang beredar terkait situs tersebut. Dan masing masing versi hampir mirip,” ungkap Marjuki.

Marjuki mencontohkan, Versi Ki Hajar Wilis yang melawan Prabu Boko dari Mataram hampir mirip dengan cerita Raden Katong dan Surya Alam, tandasnya menjelaskan.
Sedang legenda yang beredar pada masyarakat, menurut masyarakat tersebut, hanyalah legenda yang dituturkan secara lisan. Hingga saat ini belum ada buku yang di cetak secara resmi dari pihak Desa khusus untuk pengunjung Beji Sirah Keteng.

Melihat bentuk patung dan batu yang ada pada, Sirah Keteng, masyarakat Desa Bedingin beranggapan, patung tersebut ada sebelum Islam berkembang di Ponorogo.

Dalam Legenda tersebut dituturkan, Prabu Boko adalah seorang Prabu yang berkuasa di Mataram kuno. Dia adalah pemuja bangsa lelembut, yang berkuasa di hutan Ketangga, namanya Mamang Sari. Mamang Sari ini adalah penguasa alam jin dan meminta wadal atau tumbal para gadis. Dia merupakan istri Prabu Boko.

Karena ia menjadi suami Mamang Sari, maka Prabu Boko, menjadi lebih sakti dan merasuk pada dunia halus.
Guna mencari tumbal untuk Mamang Sari, Prabu Boko mencari gadis gadis dari Kerajaan Jenggala. Melihat kelakuan Prabu Boko, maka Raja Jenggala, mengutus Ki Hajar Bambang Prono dari Gunung Wilis yang kemudian di kenal dengan Hajar Wilis.

Hajar Wilis kemudian turun tangan untuk membatalkan niat jahat Prabu Boko. Kemudian terjadi perkelahian, hingga beberapa hari. Dalam perkelahian tersebut, Prabu Boko kecondhang dan melarikan diri yang kemudian di kejar oleh Hajar Wilis.

“Di kisah kejar-kejaran inilah versi Bathara Katong dan Surya Ngalam mirip dengan cerita ini,” tutur Marjuki di sela ceritanya.

Desa Pager misalnya, di Desa tersebu Prabu Boko meloncat pagar, pun begitu di Ringin surup sampai senja di Wringin Anom makan beringin muda. “Yang membedakan adanya gadis gadis yang di bawa Prabu Baka ini melawan Prabu Boko dan kemudian mengganggu berlarinya ia lepaskan. Perlawanan itu terjadi di Nglewan,” terang Marjuki.
Ending dari legenda tersebut Prabu Boko Kalah, dipenggal kepalanya.

Kemudian Hajar Wilis memisahkan antara kepala dan badan. Badan atau gembung Prabu Boko ditanam di sawah mbak endul yang tidak jauh dari Beji. Kepala ditanam di Gunung Sampung. Sebetulnya Hajar Wilis menyuruh Nggotho abdinya untuk ditanam di Gunung Lawu. Tapi karena tertidur hingga pagi ia tanam di Gunung Sampung.

Marjuki menjelaskan, bahwa banyak pengunjung dari luar daerah, sampai luar Kabupaten banyak yang datang berdo’a di lokasi patung tersebut. Kebanyakan yang datang adalah mereka yang ingin naik derajatnya. Ada yang minta agar pangkatnya naik atau terpilih menjadi Dewan atau Bupati.

Marjuki juga menandaskan, bahwa cara berdo’a sesuai dengan keyakinan yang ia anut. Sampai saat ini tidak ada ketentuan cara berdo’a di lokasi situs Sirah Keteng. (kominfo)

About the author:

Alamat

themecircle

Tentang Ponorogo

Back to Top