Breaking News
  • Home
  • Slider
  • Disnaker Akan Tambah Desa Pekerja Migran Kreatif

Disnaker Akan Tambah Desa Pekerja Migran Kreatif

By on July 4, 2018 0 316 Views

PRODUKTIF dan kreatif. Inilah yang didorong oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Ponorogo kepada desa-desa yang menjadi ‘kantong-kantong asal TKI’ di Ponorogo. Caranya dengan membentuk Desmitif atau Desa Pekerja Migran Kreatif.

Kepala Disnakertrans Ponorogo Bedianto mengatakan, program desmitif ini merupakan upaya untuk meningkatkan produktifitas warga desa, terutama yang warganya adalah para mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) atau yang juga disebut Pekerja Migran Indonesia (PMI).

“Pembentukan desmitif ini adalah upaya agar para TKI purna (TKI yang sudah kembali ke Indonesia) tidak kembali ke luar negeri sebagai TKI. Mereka kita ajak untuk produktif membuat sesuatu sesuai potensi yang ada di masing-masing desa. Nah, sesuatu inilah kemudian menjadi usaha yang akan memberikan pendapatan bagi mereka,” terang Bedianto kepada ponorogo.go.id, Rabu (4/7/2018).

Program desmitif ini, lanjut Bedianto, selaras dengan program bupati Ponorogo yang mencanangkan satu desa satu produk atau one village one product beberapa waktu lalu meskipun program ini merupakan program yang berasal dari Kementerian Tenaga Kerja RI.

Saat ini sudah empat desa yang menjalani program desmitif ini. Yaitu Desa Paringan di Kecamatan Jenangan, Desa Lembah di Kecamatan Babadan, Desa Kemiri di Kecamatan Jenangan dan Desa ancar di Kecamatan Bungkal. Masing-masing mempunyai produk unggulan yaang ditangani oleh para TKI purna.

“Paringan misalnya, di sana ada potensi ketela, maka dibuatlah tape yang enak luar biasa. Ada juga bambu, maka dibuat usaha tusuk sate. Keduanya sudah cukup laku,” ungkap Bedianto.

“Tahun ini (2018) kita akan menambah beberapa desmtif lagi. Jumlahnya berapa kita belum tahu, sebab untuk penentuannya, baik desa dan potensi usahanya, didasari oleh penelitian yang dilakukan oleh perguruan tinggi. Yang dilibatkan saat ini adalah Universitas Gadjah Mada (UGM),” tutur Bedianto.

Desmitif diharapkan mampu membuat dana yang dibawa TKI purna dari luar negeri lebih berkembang di tanah kelahirannya. Sebab, uang yang dihasilkan para pahlawan devisa ini jumlahnya tidak kecil.

“TKI Ponorogo itu bisa menghasilkan remittance (kiriman uang asing) dengan nilai sekitar Rp2 triliun tiap tahun. Sayangnya, kebanyakan, dana ini kemudian dipakai untuk hal-hal konsumtif saja. Ketika TKI kembali, ia tidak punya uang lagi dan akhirnya terpaksa atau tidak terpaksa yang berangkat lagi ke luar negeri. Dengan melakukan hal produkti, maka hal seperti ini bisa diputus,” kata Bedianto.

Warga Ponorogo yang berminat jadi TKI tidak pernah surut. Setiap tahun sekitar 5 ribu orang berangkat menjadi TKI. Ini baru yang melalui jalur resmi. Pemberangkatan melalui jalur tidak resmi bisa jadi lebih banyak lagi. “Tahun 2017 ada 5010 TKI yang berangkat melalui jalur resmi,” pungkasnya. (kominfo/dist)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *