Breaking News
  • Home
  • Slider
  • Endapan Selokan di Ponorogo Memprihatinkan

Endapan Selokan di Ponorogo Memprihatinkan

By on March 22, 2018 0 232 Views

Sejumlah petugas dari Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten Ponorogo saat berjibaku mengeruk endapan material yang membuat selokan di bawah trotoar Jalan Gajah Mada menjadi dangkal, Kamis (22/3/2018).

ACUNGAN jempol pantas diberikan kepada para petugas dari Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP). Betapa tidak, selama tujuh bulan ke depan mereka harus berjibaku dengan endapan atau sedimentasi yang cukup tebal di hampir seluruh selokan yang ada di Kota Ponorogo.

Ya, sebanyak satu regu atau sekitar delapan sampai sepuluh orang dalam tiap regu di bawah seksi Prasarana Permukiman ini memang bertugas melakukan pengerukan endapan di selokan-selokan di jantungnya Ponorogo. Bahkan mereka harus masuk ke selokan untuk menggali lumpur bercampur abu dan material lainnya yang membuat kedalaman selokan berkurang alias makin dangkal. Panjang selokan tesebut mencapai tentu mencapai beberapa kilometer.

Menurut mandor pengerukan, Bonang, pengerukan yang dilaksanakan sejak akhir Februari berjalan cukup lancar. Memang ada beberapa kendala namun bisa diatasi dengan baik. Rata-rata ketebalan sedimentasi atau endapan adalah 20 cm sampai 30 cm. Sebagian adalah abu dari letusan Gunung Kelud dan sebagian besar adalah sampah.

“Kalau dari kami paling berat adalah banyaknya sampah yang seharusnya masuk bak sampah dan terkirim ke pembuangan akhir (TPA) tapi malah dilempar ke selokan. Kalau yang terbuka sih tidak masalah, kalau yang di bawah trotoar, ya pasti menyulitkan. Apalagi kalau hanya berupa gorong-gorong yang sempit yang tidak bisa dimasuki manusia,” ujarnya saat ditemui di ruas selokan Jalan Gajah Mada bagian utara, Kamis (22/3/2018).

Kepala Seksi Prasana Permukiman Dinas PKP Henry Sudarsono mengatakan, kegiatan pengerukan dan pembersihan selokan ini adalah kegiatan rutin yang dilaksanakan dinasnya untuk memelihara saluran dan drainase di Ponorogo. Karena dengan berjalannya waktu, jelas akan terjadi sedimentasi atau pengendapan material di dasar saluran air atau selokan.

“Itu hal yang wajar. Tapi yang memprihatinkan adalah perilaku masyarakat terkait cara membuang sampah. Ada sampah daun yang mungkin dikira akan mengalir ke sungai, tapi ternyata jadi endapan dan bisa menyumbat saluran. Bisa berakibat banjir juga,” ungkap Henry.

Yang lebih memprihatinkan adalah alih fungsi bangunan yang membuat proses pemeliharaan selokan terganggu. “Kita menemui banyak trotoar yang oleh warga dirubah fungsi padahal di bawahnya adalah selokan. Banyak bak kontrol yang dicor oleh warga dan di atasnya jadi toko, bengkel atau bangunan apa begitu. Ya akhirnya bak kontrol tidak berfungsi,” ulasnya.

Petugas yang masuk ke saluran di bawah trotoar pun sering menemui kesulitan karena alih fungsi ini. Di dalam saluran tersebut banyak material yang kadang ‘tidak terduga’ berada di dalam selokan. “Mosok ada balok kayu ada di selokan. Ya jelas mengganggu. Yang butuh kerja esktra adalah selokan di dekat rumah makan, baunya sangat busuk dan kotorannya sulit diangkat,” kata Bonang.

Henry maupun Bonang pun berharap warga bisa lebih bijak dalam memanfaatkan saluran air sejak dari dalam rumah. Kalau memang berupa sampah, terutama yang membusuk seperti sampah makanan, lebih baik dibuang ke tempat sampah.

“Biar air saja yang mengalir ke selokan. Kalau sampah ya seharusnya ke tempat sampah,” tutup Bonang. (kominfo/dist)