Breaking News

Geliat Batik dari Ponorogo

By on November 15, 2017 0 397 Views

 

Babadan-Patihan Wetan ada sebuah kampung yang orang menyebut dengan Batikan. Sebutan tersebut menandakan bahwa kampung tersebut banyak pembatik – pembatik.

“Bahkan setiap rumah di deretan Parang Centhung dan Batikan (Sekarang Jl. Batoro Katong Gg II) semua pembatik,” ujar Mbah Mukri. Bahkan dirinya saat ini juga masih tercatat sebagai anggota Koperasi Batik.

Kejayaan Batik yang dulu pernah terjadi itu, memang tinggal cerita sebab pengrajin batik di daerah tersebut sudah banyak yang tua, bahkan banyak yang meninggal dunia.

“Anak cucu tak lagi ada yang mau melanjutkan,” ujar Mukri.

Karena menurut Mukri, selain batik yang berkembang saat itu batik tulis,  sulit pengerjaanya juga peminat batik semakin berkurang.

Bu Emyl salah satu anak dari pembatik di daerah tersebut, kini masih menjalankan kegiatan batik. Emyl Barokah demikian nama industri batik yang ia miliki. Bahkan anaknya kini juga memulai merintis usaha yang di kembangkan oleh keluarganya dengan membuka kegiatan produksi Batik, Prabu Putri yang berada di utara Jalan Masuk Masjid Jamik Kauman Kota Lama.

Batik yang kini dikembangkan dengan mengangkat khas Ponoragan adalah Batik bermotif reyog.

“Batik motif reyog yang kami produksi adalah Batik parang reyog dan mukti wibowo,”ujar Bu Emyl.

Sedangkan batik yang ia kembamgkan adalah batik tulis dan batik cap.

“Karena kita mengembangkan jenis kerajinan dari leluhur, maka kita kembangkan adalah batik tulis dan batik cap,” ujarnya.

Yang dimaksud batik tulis adalah batik dengan lukisan tangan. Sedangkan batik cap adalah batik yang menggunakan cap (seperti stempel). Bahan yang ia pakai tetap dengan menggunakan malam panas.

“Bagi kami, screen printing atau sablon itu bukan jenis batik. Batik tetap menggunakan malam panas,” tegas Emyl.

Hasil karya Pembatik Prabu Putri dan Emyl Barokah ini ia jual dengan variasi harga. Hal itu di lihat dari sulit dan tidaknya karya. Untuk satu potong kain batik tulis ia bandrol dengan harga 150 ribu rupiah, sedang batik cap ia jual 75 ribu rupiah dengan ukuran kain perpotong 2 meter.

Perbedaan harga tersebut karena  pengerjaan batik tulis perpotong memakan waktu sehari semalam. Sedangkan batik tulis waktu tersebut bisa mendapat 2 potong, terangnya.

Untuk menjual hasil karyannya ia jual di shoroom yang ia dirikan di Juanda Surabaya, Pilang Kenceng Madiun dan di Utara Prapatan Pasar Pon. (Kominfo/Jgo)

  Umum