Breaking News
  • Home
  • Slider
  • Jelang Muharram, Ponorogo Pindahan Pusat Pemerintahan

Jelang Muharram, Ponorogo Pindahan Pusat Pemerintahan

By on September 10, 2018 0 217 Views

PUSAT Pemerintahan Ponorogo dipindahkan. Para petinggi pun memboyong ubarampe pekerjaannya menuju tempat yang baru. Semuanya dilakukan menjelang pergantian tahun dalam penanggalan hijriyah.

Dalam boyong ini, tiga buah pusaka Ponorogo turut dikirab. Ketiganya adalah Angkin Cinde Puspito, Songsong Tunggul Wulung dan Tumbak Tunggul Nogo. Mereka dibawa dengan berjalan kaki oleh sejumlah pejabat dan perangkat kecamatan.

Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni menyerahkan ketiga pusaka Ponorogo untuk dikirab menuju Pringgitan atua rumah jabatan bupati.

Sejumlah pengamanan dari pasukan putri dan pasukan berkuda juga dikerahkan. Sepanjang jalan masyarakat menyambutnya dengan gegap gempita.

Inilah kilas balik boyong pusat pemerintahan Ponorogo yang dulu disebut juga sebagai Kerajaan Wengker dari Kutho Wetan ke Kutho Tengah atau Kelurahan Setono, Kecamatan Jenangan menuju Kota Tengah atau Kutho Tengah yang merupakan Pusat Pemerintahan Kabupaten Ponorogo saat ini

Kilas balik kejadian di abad ke-15 tersebut saat ini terus dilaksanakan tiap jelang1 Suro dalam kemasan Kirab pusaka dan buceng purak atau berebut tumpeng. Seperti yang dilaksanakan Senin (10/9/2018) siang hingga petang. Ribuan warga Ponorogo tampak antusias menyaksikan dan mengikuti kedua acara yang menjadi gelaran paling ditunggu pada Grebeg Suro tahun ini.

asukan bergada saat bertolak dari Makam Batoro Katong

Kirab itu dilaksanakan pada 1 Suro 1952 Saka atau 1 Muharam 1440 H, tepatnya setelah matahari berangsur jatuh ke timur atau masuk 1 Suro, Senin (10/9/2018) sore.

Dalam prosesi kirab, ketiga pusaka dibawa oleh sejumlah senopati yang diperagakan oleh para lurah, camat serta kepala dinas. Mereka mengenakan busana tradisional Jawa lengkap dengan keris di punggung yang berarti mereka berjalan dalam damai. Pasukan yang memiliki sebutan bergada pusaka ini berbaris penuh khidmat sambil membawa ketiga senjata andalan mereka.

Barisan berikutnya adalah pasukan putri yang diperagakan oleh sejumlah siswi SMP dan SMA di Ponorogo. Dengan busana basahan mereka juga ngombyongi atau turut serta mengawal senjata pusaka Ponorogo.

pasukan bergada saat membawa ketiga pusaka dari Makam Batoro Katong

Di belakangnya barulah rombongan kereta kuda. Sejumlah pejabat mulai dari Bupati, Sekda hingga pimpinan DPRD serta Kepala Dinas turut serta menaiki kereta kuda masing-masing. Mereka ini merupakan perlambang pejabat yang juga turut bedhol ke kota tengah.

Sesampai di paseban atau panggung utama, ketiga pusaka kemudian dijamasi atau dimandikan oleh sang bupati dan akhirnya disemayamkan di Pringgitan atau Kediaman Bupati. Nuansa tradisi nan magis serta budaya begitu lekat pada kegiatan ini.

Selain Kirab Pusoko, kirab ini juga menampilkan mobil hias dan drum band sekolah. Hal ini menjadi magnet yang membuat grebeg suro semakin menarik minat warga.

Pasukan putri yang mengiringi kirab pusaka saat bertolak dari Makam Batoro Katong

Yang tidak kalah menarik adalah buceng purak atau rebutan tumpeng berisi makanan dan palawija yang di depan paseban. Warga yang sudah menunggu sejak siang hari tampak begitu antusias memperebutkan makanan yang disediakan. Mereka percaya, dengan memperoleh sekelumit makanan saja, bisa membuat hidup mereka setahun ke depan lebih berkah.

Kepala Dinas Parisiwisata Ponorogo Lilik Slamet Raharjo menyatakan, prosesi kirab pusoko menjadi bagian utama dari grebeg suro. Sebagai sebuah tampilan budaya, kirab pusoko mampu menyedot perhatian warga dan wisatawan, baik lokal maupun asing.

“Kita berharap kirab bisa menjadi daya tarik tersendiri dari Ponorogo,” ujarnya. (kominfo/dist)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *