Breaking News
  • Home
  • News
  • Larungkan Buceng, Bupati Ipong Yakin Ponorogo Lebih Maju

Larungkan Buceng, Bupati Ipong Yakin Ponorogo Lebih Maju

By on September 11, 2018 0 261 Views

MENANDAI awal tahun baru 1 Muharram 1440 Hijriah atau 1 Suro 1952 Saka, Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni melaksanakan Larung Risalah Doa di Telaga Ngebel Selasa (11/92018) siang.

Larungan diawali dengan dihadirkannya dua tumpeng atau buceng raksasa dan delapan buceng ukuran normal di gerbang dermaga Telaga Ngebel bersama dengan para pemuka adat setempat. Setelah upacara pemberangkatan oleh Bupati Ponorogo, buceng-buceng ini kemudian dibawa berkeliling tepi telaga.

Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni menyaksikan Larung Risalah Doa di tengah Telaga Ngebel.

Setelah kembali ke tempat ritual, buceng raksasa yang terbuat dari nasi beras merah dibawa turun ke telaga oleh tiga orang perenang. Bupati Ponorogo dan wakilnya serta jajaran Forkopimda Ponorogo mengiringi perjalanan buceng dengan bus laut Telaga Ngebel untuk menyaksikan larungan dari dekat.

Sementara buceng raksasa yang terbuat dari buah-buah, sayuran dan jajan pasar serta buceng kecil ditinggal di tempat upacara. Buceng-buceng ini kemudian dipurak atau diperebutkan oleh warga. Ribuan warga yang sejak pagi telah berada di lokasi upacara segera berebut berbagai isi buceng. Sebagian warga percaya, dengan mendapatkan isi buceng, maka mereka akan mendapatkan keberkahan dan kelancaran rejeki di tahun mendatang.

 

 

Sesampai di tengah telaga, buceng raksasa dari nasi beras merah pun kemudian dihanyutkan. Ipong tampak begitu antusias dan tampak sempat ingin turut menghanyutkan buceng ini.

Usai larungan, Ipong mengatakan, Larung Risalah Doa merupakan ritual tahunan di Telaga Ngebel yang memiliki perlambang atau simbol melarutkan hal-hal yang tidak baik yang telah dilakukan selama satu tahun terakhir.

“Melarung itu maknanya adalah melarutkan semua keburukan kita dan berharap ke depan kita lebih baik. Tentu saja kita berharap ke depan Ponorogo lebih baik, lebih maju,” ungkapnya.

Para penari yang terdiri dari para gadis setempat melaksanakan tarian khusus sebelum mengarak dua bucang raksasa dan delapan buceng kecil mengelilingi Telaga Ngebel.

Larungan sebagai sebuah ritual, lanjut Ipong, merupakan daya tarik tersendiri bagi dunia pariwisata di Ponorogo. Kegiatan yang sarat budaya, seni dan nilai-nilai luhur ini selau mengundang banyak pengunjung. Baik warga Ponorogo maupun dari luar Ponorogo, termasuk dari luar negeri.

“Larungan merupakan tradisi yang mengakar kuat di sini. Di daerah lain saya melihat, kalau daerah itu tradisinya kuat, maka pariwisatanya juga kuat. Hal itu akan menunjang kemajuan ekonomi masyarakatnya,” pungkas Ipong. (kominfo)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *