Breaking News
  • Home
  • Umum
  • Pakai Agensia Hayati, Petani Lembah ‘Keroyok’ Wereng

Pakai Agensia Hayati, Petani Lembah ‘Keroyok’ Wereng

By on July 13, 2018 0 303 Views

KEROYOKAN dibalas keroyokan. Inilah langkah yang diambil para petani dari Kelompok Mukti Tani Desa Lembah, Kecamatan Babadan, atas serangan hama wereng yang masuk ke sawah mereka. Jumat (13/7/2018) pagi, mereka melakukan semprotan keroyokan alias semprotan massal untuk menghalau organisme merugikan ini.

Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Dinas Pertanian Kabupaten Ponorogo Warni mengatakan, semprotan massal ini dilakukan untuk mengendalikan perkembangbiakan wereng yang menyerang di sejumlah lahan di Desa Lembah. Warni mengatakan, para petani melaporkan adanya wereng pada tanaman yang sudah berusia sekitar 60 hingga 70 hari. Untuk itu pengendalian dilaksanakan di lahan yang dilaporkan, yaitu seluas sekitar 25 hektare dengan penyemprotan yang melibatkan 40 orang petani dari kelompok tani setempat.

Para petani di Desa Lembah, Kecamatan Babadan, Jumat (13/7/2018) pagi melakukan Gerakan Massal Pengendalian OPT dengan semprotan massal berbaha agensia hayati untuk menanggulangi serangan wereng yang saat ini masih di bawah ambang pengendalian.

“Di sawah ditemukan wereng dengan populasi dengan jumlah di bawah ambang kendali. Karena itu semprotan kali ini menggunakan agensia hayati dan bukan pestisida kimia. Dengan begitu agar aman karena alamiah. Aman ke petani atau orang lain bila terpapar dan tidak mengakibatkan residu kimia di tanaman sehingga tidak akan meracuni saat sudah dipanen dan dikonsumsi,” jelas Warni di sela kegiatan bertajuk Gerakan Pengendalian OPT.

Agensia hayati yang dipakai untuk menekan populasi wereng adalah lecanicillium lecani. Cara kerjanya, agen hayati ini akan membuat wereng menjadi sakit dan berujung kematian. Penyakit wereng ini akan menular ke wereng lainnya yang mungkin tidak terpapar sehingga akan ikut sakit dan mati.

“Tapi kalau jumlahnya sudah di atas ambang batas pengendalian ya terpaksa pakai pestisida kimia,” ujar Warni.

Kades Lembah Anton Wicaksono berharap model pengendalian hama seperti ini akan menjadi langkah mujarab untuk memusnahkan hama yang ada di persawahan di desanya. Dengan begitu, hasil panen yang selama ini sudah melebihi rata-rata produksi padi Ponorogo bisa terjaga.

“Selama ini (produksi sawah Desa Lembah rata-rata) bisa sekitar 7 ton per hektare, padahal rata-rata Ponorogo kan hanya 5,5 ton hektare, maka kalau bisa bebas wereng ya yakin tetap di 7 ton per hektare. Bahkan harapannya bisa lebih dari itu,” ungkap Anton. (kominfo/dist)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *