Breaking News
  • Home
  • News
  • Pemeliharaan Rutin, Jalan Batoro Katong Diburas dan Diburtu

Pemeliharaan Rutin, Jalan Batoro Katong Diburas dan Diburtu

By on May 30, 2018 0 487 Views

DEBU yang beterbangan memang menjadi pemandangan umum dalam setiap pekerjaan jalan. Termasuk pemeliharaan rutin yang dilaksanakan di ruas Jalan Batoro Katong, Ponorogo.

Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Ponorogo Sutrisno mengatakan, sejak pekan lalu hingga beberapa hari lagi, ruas barat Jalan Batoro Katong memang sedang banyak material dan pekerja jalan. Ruas ini dinilai sudah harus diperbaiki sebab sudah tampak ada kerusakan-kerusakan kecil di sana sini.

“Ada retak rambut, ada yang mulai tidak rata atau legok geneng, maka harus diperbaiki dengan pemeliharaan rutin. Yaitu dengan buras dan burtu,” terang Sutrisno di kantornya, Rabu (30/5/2018).

Seorang pekerja menutupi lapisan aspal cair panas dengan pasir. Cara ini dipakai untuk menutup rekahan dan meratakan permukaan jalan yang mengalami sedikit penurunan.

 

Buras adalah jenis pekerjaan jalan yang berupaya menutup retakan-retakan yang sangat kecil. Materialnya aspal dan pasir. Sedangkan burtu adalah upaya membuat permukaan yang agak turun atau ‘njeglong’ menjadi rata dengan permukaan jalan di sekitarnya. Jenis pekerjaan ini memerlukan material aspal, pasir dan kerikil pecah.

“Jadi jangan heran kalau banyak pasir dan kerikil di jalanan itu. Yang penting pemakai jalan waspada dan hati-hati sebab sebelum jalan jadi maka masih akan licin. Ada sekitar 850 meter dengan lebar 17 meter jalan di ruas tersebut yang kita pelihara,” kata Sutrisno.

Pasir dan kerikil tersebut akan melekat dan memadat dengan aspal setelah digilas dengan alat berat yang biasa disebut ‘setum’ atau ‘slender’. Jalan akan semakin mengeras saat tergilas oleh para pemakai jalan.

“Jadi kalau panas di siang hari maka aspal akan melunak dan mengembang. Pasir dan kerikil akan tambah melekat. Sampai beberapa waktu memang akan mengakibatkan debu dan agak licin. Tapi lindasan ban kendaraan akan semakin mengeraskan material itu,” terang Sutrisno.

Pasir yang ada, lanjut Sutrisno, tidak boleh disiram dengan air. Membasahi dengan alasan mengurangi debu justru akan membuat material tidak bisa menyatu.

“Malah cepat rusak. Aspal tidak bisa masuk ke sela-sela rekahan yang tipis. Pasir hilang dan tidak bisa mengeras. Jalan bisa mengelupas. Jadi biarkan saja sampai memadat. Yang penting hati-hati,” ungkap Sutrisno sambil meminta warga tetap waspada.

Selama 2018 ini, Bidang Bina Marga DPU Ponorogo telah melakukan pemeliharaan di 10 titik jalan. Mulai dengan penutupan rekahan kecil, perataan permukaan sampai penambalan. Hingga akhir tahun diperkirakan ada sekitar 50 pekerjaan pemeliharaan jalan.

“Ya lebih baik memelihara saat rusaknya masih ringan. Kalau bisa jangan sampau berlubang dan parah. Akan lebih hemat anggaran dan pemakai jalan tidak harus terganggu terlalu lama kalau ada pemeliharaan rutin,” ucapnya. (kominfo/dist)

  News
Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *