Breaking News
  • Home
  • Umum
  • Penemuan Arca Purbakala di Desa Kemiri, Jenangan

Penemuan Arca Purbakala di Desa Kemiri, Jenangan

By on April 6, 2018 0 153 Views

Sebuah benda purbakala di era Wengker Pertama berhasil terindentifikasi, setelah  lebih dari 50 tahun lamanya menjadi penyangga penampungan air milik warga.

Arca yang terindentifikasi sebagai Lingga Yoni ini, ditemukan oleh Sikin (75) di pekarangan rumahnya di Rt 1 Rw 1 Dukuh Tumpuk Desa Kemiri Kecamatan Jenangan tahun 1969 lalu.

Sikin menceritakan, saat menggali pekarangan, ia banyak menemukan benda- benda kuno diantaranya kendi, layah, dan ulek-ulek, serta lesung. Namun akibat tidak mengetahui seluk beluk benda-benda tersebut ia pun memilih menghancurkan dan membuang benda tersebut.” Dulu banyak benda benda kuno yang saya temukan, tapi karena orang awam makanya banyak yang saya buang, cuman Lingga itu saja yang sampai sekarang ada, itu pun saya pakai untuk tempat penyangga penampungan air minum di dapur,” ujarnya, Jumat (6/4).

Sikin mengungkapkan, di tempat penemuan arca yang diklaim sebagai lambang kesuburan itu, banyak terdapat batu bata kuno dengan ukuran besar. ” Banyak batu bata kuno juga disitu, sampai sekarang masih ada dan tidak berani memindahkanya saya karena keramat,” ungkapnya.

Sementara itu, Perangkat Desa Kemiri Kecamatan Jenangan, Sujarno mengaku, pihaknya baru mengetahui adanya Arca Wengker Pertama di Desanya setelah salah satu pengamat purbakala dari Madiun mengidentifikasi penemuan Sikin itu sekitar 3 minggu lalu. Dari hasil pengamatanya diprediksi lokasi penemuan arca itu adalah lokasi pemujaan yang digunakan untuk menyembah dewi kesuburan. Hal ini ditunjukkan dengan keberadaan Lingga Yoni berkategori perempuan tersebut. ” Tiga minggu lalu ada pengamat purbakala ke sini dan mengidentifikasi arca ini. Dari hasik pengamatanya tempat ini ada balai pemujaan dewi kesuburan, yang sering di gunakan masyarakat tempo dulu untuk meminta keturunan,” ungkapnya.

Sujarno mengungkapkan, hingga kini arca Wengker Pertama tersebut masih berada di rumah Sikin, dan belum dievakuasi ke balai konservasi purbakala lantaran pihak Dinas Pariwisata Ponorogo juga belum mengetahui keberadaan benda itu.” Belum ada dinas kesini. Makanya masih kami simpan biar tidak rusak,” pungkasnya. (kominfo/fdl)

  Umum