Breaking News
  • Home
  • News
  • Permukaan Sumber Air Terus Turun, Ayo Reboisasi

Permukaan Sumber Air Terus Turun, Ayo Reboisasi

By on September 21, 2018 0 270 Views

REBOISASI alias penghijauan di Ponorogo dinilai masih sangat minim. Dampaknya mulai dirasakan saat ini, terutama oleh para petani yang mengandalkan pengairan sawahnya dari sumur dengan pompa disel.

Salah satu rumah pompa disel untuk mengairi sawah di salah satu lahan di kawasan Kecamatan Kota Ponorogo.

Dinas Pertanian Kabupaten Ponorogo mencatat. Tiap tahun penurunan tinggi permukaan sumber air dangkal mencapai 50 cm hingga 60 cm. Bila tidak segera ditanggulangi, penyusutan ini akan semakin dalam.

“Kondisi ini sudah kita ketahui sejak beberapa tahun lalu. Karena itu kita himbau agar petani tidak hanya menanam padi selama satu tahun. Mereka yang menanam dengan pola padi-padi-padi adalah yang paling parah merasakan efek ini,” ujar Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ponorogo Harmanto, Jumat (21/9/2018).

Dikatakannya, sumur disel yang selama ini hanya 45 meter sudah harus diperdalam. Di beberapa tempat malah sudah ada yang sampai 60 meter kedalamannya.

“Lima atau sepuluh tahun lagi harus sampai sedalam apa pembuatan sumurnya,” ujar Harmanto setengah bertanya.

Penurunan tinggi permukaan sumber air dangkal ini membuat debit air sumur mengecil. Lamanya waktu mengairi yang selama ini hanya sekitar 13 jam untuk tiap satu hektare lahan padi, saat ini sudah semakin lama menjadi sekitar 20 jam tanpa menghentikan pompa disel

“Otomatis, katanya, konsumsi solar semakin banyak. Itu artinya ongkos produksi semakin tinggi. Belum lagi kalau sumur terus diperdalam dan disel diturunkan, bisa muncul gas beracun juga. Bahaya sekali,” ulasnya.

Harmanto menyebut ada tiga solusi atas persoalan ini. Yang pertama adalah mengubah pola tanam di lahan pertanian. Kalau biasanya padi-padi-padi atau padi sepanjang tahun, maka sebaiknya diselingi dengan penanaman tanaman yang tidak menyerap banyak air seperti jagung atau kedelai.

Solusi kedua adalah mengganti pompa disel dengan pompa jenis submersible yang menggunakan listrik. Pertimbangannya, submersible bisa lebih jauh ke dalam untuk pencelupan klepnya sehingga tidak terpengaruh debit air yang menyusut.

“Solusi ketiga adalah penghijauan. Area sekitar sumber air dengan radius 100 meter harus ditanami pohon-pohon rindang yang bisa mengembalikan daur hidrologi,” ujarnya.

Daur hidrologi yang dimaksud adalah daur pendek, yaitu saat hujan akar pohon bisa menyimpan air, saat kemarau bisa melepas air. “Ketiga solusi sebaiknya dilakukan bersamaan dan itu terus kita tekankan kepada para petani kita,” kata Harmanto. (kominfo/dist)

  News
Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *