Breaking News

Petani Harus Waspada Wereng

By on July 20, 2018 0 155 Views

KEWASPADAAN terhadap keberadaan hama wereng oleh para petani tak boleh kendor, terutama untuk lahan yang kini umurnya sekitar 70-80 hari. Serendah apapun populasi hama penghisap bulir padi ini harus segera ditekan sehingga bisa mendapatkan panen yang menggembirakan.

Kepala Laboratorium Pengamatan Hama Penyakit Tanaman Pangan dan Hortikultura (LPHPTPH) Joko Sunarno (kaos biru bertopi) saat menyerahkan secrara simbolis agensia hayati atau semacam pestisida non-kimia kepada Kelompok Tani di Desa Lembah, Kecamatan Babadan, beberapa waktu lalu.

Para petani di Desa Lembah, Kecamatan Babadan, saat mendapatkan pengarahan untuk terus mewaspadai keberadaan wereng di lahannya sebelum menggelar semprotan massal dengan agensia hayati di persawahan setempat beberapa waktu lalu.

 

Kepala Laboratorium Pengamatan Hama Penyakit Tanaman Pangan dan Hortikultura (LPHPTPH) Madiun Joko Sunarno kepada ponorogo.go.id mengatakan, hingga pertengah Juli ini pihaknya sudah melakukan tiga kali gerakan pengendalian massal hama wereng dengan agensia hayati atau semacam pestisida non-kimia di tiga wilayah di Ponorogo. Hal ini karena telah ada laporan dari petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) yang menyebut adanya temuan wereng dalam jumlah rendah di persawahan di Ponorogo.

“Karena ada laporan dengan jumlah di bawah ambang batas kendali maka dilakukan gerakan massal dengan agensia hayati jenis leccanium lecani dengan harapan populasi yang rendah bisa ditekan dan jangan sampai terjadi ledakan populasi wereng. Kalau pun terjadi, maka kita akan terpaksa melakukan pembasmian dengan pestisida,” ungkap Joko, Jumat (20/7/2018).

Wilayah yang sudah melaksanakan pengendalian populasi dengan cara penyemprotan agensia hayati adalah Kecamatan Sukorejo, Babadan dan Pulung.

“Gerakan ini tergantung adanya laporan petugas POPT di wilayah kecamatan masing-masing. Petani kita minta waspada terhadap keamanan wilayah persawahannya dari keberadaan OPT (Organisme Pengganggu Tanaman). Petani tetap memiliki peran penting karena petani sebagai manajer dari lahan itu,” ujar Joko.

Menurutnya semua pihak, pihak Dinas Pertanian dan petani memang harus sama-sama mengendalikan OPT. Petani adalah ‘pemain utama’, sedangkan petugas hanya memberi semangat untuk segera bergerak bila terjadi ledakan populasi.

“Kami dari brigade proteksi tanaman akan membantu pelaksanaannya,” kata Joko.

Total agensia hayati yang telah didistribusikan ke lahan persawahan di tiga mencapai 100 liter dengan jumlah hamparan sekitar 30 hektare. Kondisi populasi harus ini terus dipantau terus sampai panen.

“Pokoknya harus aman. Harapan dari lab (LPHPTPH) seperti itu. Jadi nanti kalau setelah awal gerakan ini masih ada OPT dalam pengamatan maka bisa dilakukan gerakan lagi,” pungkasnya. (kominfo/dist)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *