Breaking News
  • Home
  • Slider
  • Pupuk Organik Cair Akan Didistribusikan Pada MK II dan MP

Pupuk Organik Cair Akan Didistribusikan Pada MK II dan MP

By on April 20, 2018 0 40 Views

PUPUK Organik Cair (POC) yang penggunaannya telah dilaksanakan pada 2017 lalu, pada 2018 ini akan kembali dihadirkan. Tepatnya pada masa tanam MK II atau musim kemarau kedua dan MP atau musim penghujan.

“Kita akan pakai POC ini pada nanti MK II dan MP. Sebab penggunaan pupuk organik tidak boleh terhenti sebab kondisi tanah bisa nol lagi (memburuk kembali),” ujar Kepala Dinas Pertanian dan Holtikulturan Kabupaten Ponorogo Harmanto, Kamis (19/4/2018).

Dikatakannya, POC untuk tahun 2018 ini bukan lagi sebagai bantuan sosial atau bansos namun merupakan penyediaan pendukung program pemerintah. Harmanto membantah desas-desus dihentikannya program POC karena dianggap melanggar peraturan perundang-undangan.

“Masih boleh kok ada pengadaan POC. Tahun 2018 dapat, tahun 2019 dapat. Ya sebagai pengadaan pupuk yang didasarkan pada permintaan petani. Jadi dasar hukumnya jelas. TP4D (Tim Pengawal dan Pengaman Pemerintah dan Pembangunan Daerah) Kejaksaan POnorogo juga mendampingi kok,” terang Harmanto.

Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni saat menyaksikan stok Pupuk Organik Cair (POC) di Kecamatan Babadan beberapa waktu lalu (foto : dok)

Pada 2018 ini, jumlah petani sasaran dan besaran dana untuk POC ini masih sama dengan 2017 lalu. Yaitu mencapai 1.150-an kelompok tani dengan dengan jumlah anggota rata-rata 50 orang petani.  Sehingga jumlah petani yang memakai POC ini sekitar 6 ribuan orang. Dananya mencapai sekitar Rp20 miliar.

Kebutuhan POC mencapai sekitar 180 ribu liter untuk lahan seluas sekitar 34.810 hektare. Setiap hektare lahan akan diberi POC sebanyak 5 liter. Produksi beras dari lahan tersebut diperkirakan mencapai 490 ribu ton.

Penggunaan POC di Ponorogo sudah memperlihatkan pengaruh positif. Di antaranya adalah kenaikan produksi padi. Saat ini rata-rata produksi padi di Ponorogo mencapai 6,7 ton per hektare satu kali panen. Di beberapa tempat, produksi bisa mencapai 9 ton sampai 10 ton per hektare.

“Nyari yang di bawah 7 ton itu susah. Ya memang ada yang produksinya hanya 5 ton, tapi lebih banyak yang lebih dari 7 ton,” kata Harmanto.

Penggunaan pupuk organik juga akan menutupi kebutuhan pupuk dalam RDKK atau Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok untuk pupuk kimia. “Kalau sekarang RDKK hanya menutipu sekitar 69 persen kebutuhan pupuk, nah, yang 31 persen ya dari pupuk organik ini,” pungkasnya. (kominfo/dist)