Breaking News
  • Home
  • Slider
  • Reyog Santri, Karena Reyog Juga Bisa Islami

Reyog Santri, Karena Reyog Juga Bisa Islami

By on March 24, 2018 0 208 Views

Penari ganongan tampil dengan kostum yang tidak bertelanjang dada di sela talkshow budaya di UMPO, Sabtu (24/3/2018).

DIHARAMKAN untuk dipentaskan adalah nasib kesenian reyog 40 tahun lalu. Kini reyog terus berkembang dan salah satunya dalam bentuk reyog santri. Tarian asli Ponorogo yang balutannya santun dan memiliki makna yang sarat ajaran hidup islami.

Inilah yang terungkap dalam Talkshow Kebudayaan dengan tema ‘Menumbuhkan Kesadaran Nilai Pendidikan Islami Berbasis Kearifan Lokal’ yang digelar Himpunan Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UMPO) di aula UMPO, Sabtu (24/3/2018).

Dekan FAI UMPO, yang juga Ketua Yayasan Reyog Ponorogo terpilih, Ridlo Kurnianto mengatakan, sejak beberapa tahun terakhir reyog dengan tampilan dan garapan yang disinkronisasi dengan nilai-nilai Islam mulai hadir di Ponorogo. Seni reyog ini pun kemudian hadir dengan sebutan reyog santri. Reyog santri pun telah hadir di sejumlah pondok pesantren di Ponorogo.

“Ada yang menghadirkan reyog secara utuh ada juga yang menghilangkan satu atau dua bagian di dalamnya. Dan, saat ini kami terus berupaya agar tampilan reyog santri tetap segaris dengan tampilan reyog umumnya,” ungkap Ridlo saat menjadi narasumber talkshow tersebut.

Di salah satu ponpes terkemuka, contoh Ridlo, reyognya tidak menghadirkan jathil dan tokoh Prabu Kelono Sewandono. Alasannya, jathil harus hilang karena tidak diperbolehkan menampilkan wanita dalam tarian secara berlebihan dan tokoh Kelono Sewandono harus hilang karena khawatir menjadi perlambang kultus individu. Di sejumlah ponpes, reyog juga dikembangkan dengan berbagai adaptasi atau penghilangan bagian-bagian tertentu dari tarian, terutama reyog versi bantaranginan.

Namun, kata Ridlo, sebenarnya bisa dilakukan adaptasi tari reyog yang tetap bisa menjadi pengajaran nilai-nilai hidup tanpa mengurangi estetika garapan tari reyog itu sendiri. Dicontohkannya, untuk jathil tidak lagi dengan gerakan yang terlalu gemulai namun patah-patah cenderung gagah. Kostumnya juga lengan panjang dengan celana panjang lengkap dengan hijabnya. Untuk ganongan dan Prabu Kelono mengenakan kaos panjang sewarna kulit agar penari tidak bertelanjang dada.

“Sedangkan untuk Prabu Kelono Sewandono yang sempat dipersepsikan sebagai perlambang kultus individu, kami punya cara pandang lain. Yaitu bahwa dalam tatanan masyarakat dibutuhkan pemimpin yang berwibawa dan masyarakat harus tunduk kepadanya. Senjata sang prabu, yaitu pecut Samandiman yang dipersepsi berasal dari kata Sami’na wa Ahtho’na,” terang Ridlo.

Menurutnya, reyog merupakan sarana yang dipilih oleh Batoro Katong atau penguasa pertama di Ponorogo untuk mengislamkan warganya dari kebudayaan animisme dinamisme.

Budayawan reog Mbah Tobron (tengah) dan Dekan FAI UMPO Ridlo Kurniawan saat menjadi narsum talkshow budaya di aula UMPO, Sabtu (24/3/2018).

Kehadiran reyog santri ini disambut positif Ahmad Tobroni atau lebih dikenal sebagia Mbah Tobron. Menurutnya, reyog santri memperkaya khasanah seni reyog di Ponorogo dan membuat reyog lebih bisa diterima.

“Harapannya tentu reyog akan lebih berkembang sebagai kesenian asli Ponorogo. Akan lebih baik lagi kalau bisa diterima sebagai warisan asli budaya Indonesia oleh dunia (Unesco),” ujarnya yang juga menjadi pembicara kedua.

Ia sangat gembira karena dengan adanya reyog santri, maka pengharaman pementasan reyog di tahun 1977-an sampai beberapa tahun kemudian memang tidak punya alasan kuat dari sisi kesenian. Reyog tetap bisa menjadi sarana untuk menanamkan nilai-nilai yang baik dalam kehidupan. (kominfo/dist)