Breaking News
  • Home
  • News
  • Sabuk Hijau Terindikasi Mulai Rusak, Harus Ada Penghijauan Yang Tepat

Sabuk Hijau Terindikasi Mulai Rusak, Harus Ada Penghijauan Yang Tepat

By on January 22, 2019 0 114 Views

PENGHIJAUAN yang tepat harus menjadi catatan seluruh warga Ponorogo saat ini. Sebab, kondisi wilayah yang masuk sebagai sabuk hijau atau wilayah penangkap hujan sudah terindikasi mengalami kerusakan. Hal ini agar sumber air yang ada tetap lestari.

Petugas dari UPSDA 3 BBWS Bengawan Solo di Madiun Wilayah Eks Karesidenan Madiun, Wahyono, mengatakan, saat ini sejumlah titik yang merupakan sabuk hijau di Ponorogo yang kondisinya rusak. “Kami belum memegang jumlah atau data luasan secara pasti. Tapi itu jelas ada kerusakan meskipun secara umum kondisi sabuk hijau di Ponorogo masih baik,” ungkap Wahyono, Selasa (22/1/2019).

Menurut Wahyono, kerusakan ini terjadi akibat pemotongan tanaman dan pepohonan di wilayah sabuk hijau yang dilakukan tanpa memperhatikan ekosistem. Pemotongan pohon yang abai ekosistem ini contohnya adalah penebangan pohon yang kemudian diganti dengan tanaman pertanian.

Penghijauan yang dilakukan oleh warga kadang juga tidak tepat. “Seharusnya, tanaman keras ya diganti dengan tanaman keras agar tetap bisa menyerap air,” ujarnya.

Penghijauan yang tepat akan bisa menjaga dan melestarikan mata air-mata air di daerah dulu. Baik hulu sungai maupun telaga, bendungan dan embung-embung yang ada.

“Misal di Telaga Ngebel, Embung Badegan atau di sungai-sungai di Ponorogo. Hulunya sudah ada yang rusak sehingga harus kita jada mulai saat ini dengan melakukan penghijauan. Kerusakan di daerah Ngebel misalnya, terlihat jelas dari adanya sedimentasi di telaga akhir-akhir ini,” ungkapnya.

Material tanah bercampur pasir yang menjadi semacam pulau di bagian selatan Telaga Ngebel pada akhir tahun 2018 adalah bukti nyata adanya kerusakan di bagian hulu sungai dan mata air telaga kebanggaan warga Ponorogo tersebut. Tanah bercampur pasir itu adalah tanah yang tidak bisa terikat oleh akar pohon sehingga tergerus dan hanyut bersama air hujan atau air sungai menuju Telaga Ngebel.

“Maka kita harus ikut menjaga ekosistem itu. Karena rusak sedikit saja bisa mengakibatkan bencana seperti tanah longsor dan banjir,” pungkas Wahyono. (kominfo/dist)

  News
Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *