Breaking News
  • Home
  • News
  • Sawoo Seberat 3 kilogram Dikembangkan Pemuda Asal Ponorogo

Sawoo Seberat 3 kilogram Dikembangkan Pemuda Asal Ponorogo

By on March 28, 2018 0 195 Views

Zaky Arista Kencana Putra sedang menunjukkan hasil budidaya sawoo Amerika

Buah sawo mungkin sudah banyak dikenal masyarakat. Karena buah ini termasuk tanaman yang bisa berkembang baik di dataran rendah. Pun buahnya sering dijumpai di pasaran. Tapi, buah sawo milik Zaky Arista Kencana Putra ini lain daripada yang lain. Meski mayoritas sama dengan sawo pada umumnya, tapi buah sawo hasil budidaya Zaky memiliki ukuran raksasa. ‘’Namanya Mamey Sapote, Sawo Amerika. Satu buah beratnya bisa mencapai tiga kilogram lebih,’’ kata Zaky kepada Ponorogo.go.id, Rabu (28/3).

Zaky mengungkapkan dirinya mulai mengembangkan tanaman sawo Amerika itu sejak sekitar tujuh tahun lalu. Awalnya dia ditawari oleh salah seorang mitra dagang ayahnya dari Demak, Jawa Tengah untuk mengembangkan tanaman tersebut. Karena menganggap langka dan belum pernah ada di Ponorogo maupun eks Karesidenan Madiun, dia pun tertarik menanamnya. Kebetulan mitra dagang ayahnya itu juga sudah membudidayakannya dan berhasil. ‘’Pertama dapat bibitnya ya beli dari mitra ayah itu, lalu saya kembangkan di rumah hingga sekarang,’’ kisahnya menjelaskan.

Sebelum mulai menanam dulu, suami dari Puput Ambarwati ini mengaku memiliki cita-cita tak beda jauh dengan pemuda lain. Yakni menjadi seorang pegawai bank atau aparatur sipil negara (ASN) setelah lulus kuliah nanti. Namun, mindsetnya berubah ketika tahu ayahnya memilih pensiun dini dari ASN hanya karena ingin lebih fokus pada budidaya tanaman buah-buahan. Padahal saat itu ayahnya sudah menjabat sebagai kepala UPT PLKB di Dinas BKKBN Ponorogo. ‘’Dari situ saya mikir, bapak aja pensiun dini, buat bisa fokus ke tanaman, kok saya malah pengen jadi ASN. Akhirnya saya fokus juga bantu bapak untuk terjun di dunia pertanian,’’ jelasnya.

Ketika mulai terjun di pertanian, warga Jl. Rumpuk No. 107 B Kertosari Babadan mengaku masih belum memiliki skill sama sekali. Kala itu dia belajar dari sang ayah yang kebetulan sedang membudidayakan kelengkeng pingpong (buah kelengkeng berukuran sebola pingpong). Ketertarikannya dalam dunia pertanian itu pun diketahui sang ayah. Hingga akhirnya dia diberi wawasan mengenai peluang bisnis pertanian di Indonesia yang masih terbuka luas. ‘’Pertamanya ya liat-liat bapak nanam buah, lalu dipraktekkan sendiri dan ternyata bisa,’’ ungkapnya senang.

Merasa menemukan kecocokan di bidang tersebut, Zaky pun memilih kuliah dengan mengambil Jurusan Agrobisnis, Fakultas Pertanian di Universitas Brawijaya, Malang. Niatnya ingin lebih menguasai lagi usaha di bidang budidaya tanaman buah itu. Karena di kampusnya dia bisa mempelajari tentang pertanian lebih luas lagi. Tidak hanya sekedar tanam menanam tapi juga mengenai sosial ekonomi, hama penyakit tanaman, budidaya, tanah, pupuk dan lain sebagainya. ‘’Kuliah sambil budidaya. Jadi antara teori dan praktek dijalani bareng,’’ paparnya.

Setelah hampir tujuh tahun, kini laki-laki yang juga pengurus Purna Paskibraka Indonesia Kabupaten Ponorogo ini sudah menuai hasilnya. Sejak dua tahun lalu, dia sudah bisa mengembangkan tanaman sawo Amerikanya untuk dibuat bibit. Yang hasilnya bakal dijual ke pasaran dengan harga perbibit sekitar Rp 1,5 juta hingga Rp 2,5 juta. Tergantung tinggi rendahnya bibit tanaman sawo amerika hasil budidayanya itu. ‘’Kalau pas lagi sepi seperti sekarang kurang lebih sebulan bisa dapat penghasilan sekitar Rp 10 juta sampai Rp 15 juta,’’ ungkapnya.

Maklum saja, pasaran bibit tanaman sawo amerika milik Zaky tidak hanya dijual di lokalan. Dia mengaku sudah pernah mengikuti pameran bibit tanaman di seluruh Jawa Timur. Bahkan juga sudah pernah kirim bibit ke luar Jawa misalnya ke Bali, Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera. Belakangan juga mendapat orderan bibit sawo Amerika ke Malaysia sekitar 20 bibit. Selama mengembangkan budidaya sawo Amerika itu, Zaky mengaku hampir tidak ada kesulitan terutama soal teknisnya. ‘’Yang sulit itu mengajak orang berfikir positif tentang pertanian. Sekarang kan masih banyak yang pesimis tentang masa depan pertanian kita,’’ terangnya.

Kendati sudah menjadi pembudidaya sukses, namun Zaky mengaku masih menyimpan sebuah harapan. Pria kelahiran Ponorogo sekitar 28 tahun silam ini mengaku ingin melakukan pemberdayaan kepada masyarakat. Mengajak masyarakat untuk peduli lagi pada dunia pertanian. Karena menurutnya sekarang sudah sangat jarang ada pemuda atau pemudi yang terjun langsung di dunia cocok tanam itu. Bahkan lulusan pertanian pun mungkin juga hanya segelintir saja. Sedangkan lahan pertanian yang tersedia masih belum dimanfaatkan semuanya. ‘’Fokusnya pada lahan tegalan, kalau sawah biar untuk tanaman pangan. Sebisa mungkin dimanfaatkan untuk tanaman dengan nilai jual tinggi (buah), agar panennya bisa dinikmati,’’ jelasnya.

Dia menyayangkan selama ini tegalan atau pekarangan di desa cuma ditanami pohon jowar, trembesi, randu dan lainnya. Bahkan banyak yang tidak terurus dengan baik. Dia ingin membuktikan bahwa dengan pertanian bisa meningkatkan perekonomian masyarakat. Apalagi fakta di lapangan selama ini dari sekian banyak pedagang buah di Ponorogo, hampir tidak ada produk asli daerah. Kebanyakan mendatangkan dari luar daerah dan bahkan luar negeri. ‘’Negeri subur makmur gemah ripah loh jinawi seperti ini kok hasil kebunnya import, kan aneh hehe,’’ pungkasnya. (kominfo/fdl)

  News