Sisi Lain Dari Bencana Tanah Longsor Banaran Pulung

Sisi Lain Dari Bencana Tanah Longsor Banaran Pulung

Comments Off on Sisi Lain Dari Bencana Tanah Longsor Banaran Pulung

AYAH & IBU TERTIMBUN LONGSOR BELUM DITEMUKAN

SI KECIL ROSSA DAN PUTRI HANYA BISA DIAM MEMBISU LALU TIBA-TIBA MENANGIS

PONOROGO, (PULUNG) – Bencana tanah longsor yang terjadi tepat tanggal 01 April 2017 lalu, benar-benar menjadi bencana nasional negara ini. Sekitar 28 jiwa dinyatakan hilang dan baru tiga orang saja yang jenazahnya sudah ditemukan oleh tim evakuasi bencana. Diluar nyawa sekian banyak warga yang hampir dapat dipastikan meninggal karena tertimbun tanah longsor, lebih dari 30 rumah penduduk juga luluh lantak tak terlihat karena juga terkubur dalam material longsoran. Bencana alam yang benar-benar dahsyat dan menyisakan cerita pilu yang di ungkapkan kata-kata.

Satu dari sekian kisah pilu itu adalah tentang apa yang menimpa keluarga Tolu dan Situn. Warga yang beralamat di Dukuh Tangkil Rt.02 Rw.01 Desa Banaran Kecamatan Pulung Kabupaten Ponorogo. Tolu dan Situn, adalah sepasang suami istri yang saat kejadian sedang membantu saudaranya memanen padi di lahan yang saat ini menjadi titik longsor utama. Jenazah keduanya sampai saat ini belum diketemukan.

Sedih, pilu dan tak bisa terbayangkan, adalah gambaran yang mungkin tetap tidak bisa melukiskan kisah duka yang menimpa keduanya. Seolah tiada kata yang bisa dirangkai untuk menuliskan kisah duka yang dialami anak-anak keduanya saat ini. Pasangan petani dan pekebun ini, memiliki 6 anak yang saat ini nasibnya jadi tidak menentu. Enam anak yang mayoritas masih kecil dan belum berkeluarga, yang tiba-tiba harus kehilangan ayah bundanya  tanpa wujud jasad yang saat ini belum ditemukan.

Ke-enam anak Tolu dan Situn itu adalah, Sumarno yang saat ini hidup bersama neneknya di desa Bekiring Pulung, Suwanji (anak kedua) yang menjadi anak satu-satunya yang telah berkeluarga dan tinggal di rumah mertuanya di desa Bareng Kecamatan Pudak. Anak ketiga adalah Riyanti yang saat ini masih kelas II Aliyah dan hidup di salah satu panti asuhan putri di Ponorogo Kota. Lalu Ahmad Afandi, yang saat ini masih duduk di kelas II SMP di Madiun, dan dua anak terkecil, Rossa dan Putri yang masih kelas III dan VI SD Banaran Pulung.

“Anak pak Tolu dan bu Situn ada enam. Yang paling besar hidup dengan neneknya di desa Bekiring Pulung. Lalu Suwaji ini yang jadi anak mantu saya, kemudian Riyanti yang telah beberapa tahun hidup dan tinggal di panti asuhan Ponorogo kota, serta Ahmad Afandi yang masih kelas II dan sekolah di SMP Madiun sana. Terakhir dua anak paling kecil ini, Rossa dan Putri yang masih kelas III dan VI SD. SD Banaran Pulung itu,” terang Warsito. Besan atau ayah menantu dari anak kedua pasangan Tolu dan Situn.

“Saat kejadian, saya tidak tahu persis ceritanya. Tapi dari cerita anak mantu saya ini dikisahkan bahwa ayah dan ibunya saat kejadian bencana longsor itu sedang ikut bantu memanen jahe saudara di ladang yang saat ini menjadi titik longsor yang paling atas itu,” tambah Warsito. Saat ditemui di rumahnya di desa Bareng Kecamatan Pudak.

Ia mendapat kabar terjadi bencana longsor yang dahsyat dan membuat Tolu dan Situn besannya itu ikut tertimpa longsor sekira satu jam setelah kejadian. Begitu mendengar hal itu, ia bersama istrinya langsung menuju desa Banaran Pulung tempat kejadian bencana itu. Seketika ia mencari anggota keluarga dari anak mantunya Suwanji itu. Dan menemukan dua anak paling kecil, Rossa dan Putri yang sudah diungsikan di rumah kepala desa. Hingga pada akhirnya beberapa jam setelahnya ia baru bisa membawa kedua anak kecil itu untuk tinggal di rumahnya.

“Kalau bertanya bapak atau ibu kemana kak? Itu tidak pernah. Tapi yang biasa saya tahu dan lihat, ketika malam tiba dan mau tidur, dua adik saya itu sering terdiam lalu tiba-tiba menangis. Mungkin keduanya telah tahu bahwa bapak dan ibu kena musibah longsor itu,” terang Suwanji anak kedua pasangan Tolu dan Situn.

Baik anak kedua atau ketiga dan keempat yang sudah mulai dewasa mengatakan tidak mendapat firasat apa-apa sebelum kejadian bencana yang membuat nasib bapak ibunya kemungkinan besar meninggal tertimbun longsoran. Hanya anak pertama, Suwarno, yang sepertinya mendapat firasat akan kepergian kedua orang tuanya. “Pagi sekitar jam enam, atau sebelum kejadian, bapak sempat telpon saya. Tidak banyak yang disampaikan alias ngobrol biasa sebentar. Tapi ada satu kalimat terakhir yang sampai saat ini terngiang di telinga saya. Ia justru menyampaikan kepada saya, menyuruh hati-hati. Itu saja. Hati-hati kenapa juga tidak dijelaskan,” terang Suwarno.

Ternyata, orang tua yang menyuruhnya berhati-hati, justru saat ini hilang dan tidak diketahui kabarnya. Hilang yang dimungkinkan meninggal dan tertimbun material longsoran dan belum diketemukan jasadnya hingga hari ini. Saat ini, tiga anak Tolu-Situn, mengungsi dan tinggal di rumah saudaranya Warsito di desa Bareng Pudak. Yaitu dua anak perempuan yang masih SD itu, dan 1 anak yang biasanya tinggal di Panti Asuhan. Anak pertama Sumarno, tinggal bersama neneknya di desa Bekiring Pulung. Satu lagi anak ke-empat, Ahmad Affandi, yang ternyata masih tetap bertahan tinggal di rumah kedua orang tuanya di desa Banaran Pulung, dan tidak mau diajak mengungsi. Kebetulan memang rumah keluarganya tidak rusak terterjang bencana longsor. Namun masih tetap termasuk di titik rawan longsor susulan. (Kominfo)

About the author:

Alamat

themecircle

Tentang Ponorogo

Back to Top