Breaking News
  • Home
  • News
  • Tak Kunjung Hujan, Telaga Ngebel Kritis

Tak Kunjung Hujan, Telaga Ngebel Kritis

By on October 24, 2018 0 362 Views

HUJAN yang tak kunjung turun membuat volume air di Telaga Wisata Ngebel yang juga punya fungsi bendung irigasi dan pembangkit listrik menyusut. Bahkan, Di akhir Oktober ini mencapai batas kritis.

Kakanwil Madiun Perum Jasa Tirta Pengelola Air Telaga Ngebel Indra Nurdianyoto mengatakan, saat ini debit air yang bisa dialirkan ke saluran irigasi memang masih normal. Angkanya mencapai 1.100 liter per detik. Tetapi tidak lama lagi, pintu air untuk irigasi lahan sawah di hilirnya akan segera ditutup.

Indra menyatakan, penutupan ini karena pengaliran ini tidak bisa dilakukan terus menerus agar air tidak terus menyusut. Telaga Ngebel sebagai sebuah waduk alami tidak mungkin dibiarkan mengering karena bisa membuat telaga rusak.

Pengerukan yang dilakukan Perum Jasa Tirta untuk mengurangi material sedimen yang menumpuk dan mengakibatkan pendangkalan di Telaga Wisata Ngebel.

“(Cadangan air di Telaga Ngebel) sudah kritis. Sudah hampir sampai di batas minimalnya, yaitu elevasi 714,5 m SHVP (Surabaya Haven Vloed Peil/Tinggi Banjir Pelabuhan Surabaya). Tinggi maksimum air Telaga Ngebel sendiri adalah 731,5 m SHVP. Memang masih ada air 25 juta meter kubik, masih banyak tapi tidak mungkin itu semua dialirkan, ,” ujar Indra, Rabu (23/10/2018).

Untuk menambah kapasitas tampungan, PJT telah melakukan pengerukan tanah akibat sedimentasi di Telaga Ngebel. Sebanyak 4.700 kubik tanah berhasil diangkat dari telaga.

“Awal November, Ngebel sudah siap untuk menampung air lagi. Sekarang belum mulai hujan tapi sudah mendung-mendung,” ungkapnya.

Dikatakannya, selain kemarau, debit air memang berkurang karena adanya pendangkalan yang terjadi di Telaga Ngebel. Sebenarnya adalah hal yang alami terjadi. Semua waduk, bendungan dan telaga mengalami hal ini karena menerima air dari hulu.

Bila musim hujan, air dari hulu seperti gunung-gunung dan bukit akan membawa material tanah dan pasir yang masuk ke telaga, waduk dan bendungan sehingga membentuk sedimentasi dan terjadi pendangkalan. Akibatnya, kapasitas tampungan menjadi berkurang. (kominfo/dist)

  News
Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *