Hadang Hoax dan Asah Kemampuan, SMA 3 Ponorogo Gelar Lomba Jurnalistik

By on January 20, 2019 at 5:29 pm 0 483 Views

*BANJIR* informasi sesat alias hoax menjadi salah satu alasan bagi SMA Negeri 3 Ponorogo untuk kembali menggelar SMAGA Journalistic Adventure (SJA). Perlombaan ini diyakini bisa menjadi ajang mempelajari proses hadirnya sebuah berita akurat sekaligus cara ekspresi para pesertanya

Pembina Ekstra Kurikuler Jurnalistik SMA Negeri 3 Ponorogo Nadif Dwi Saputra mengatakan, SJA adalah agenda rutin yang dilaksanakan di tiap awal tahun atau di semester II. Para pesertanya adalah dari ekskul jurnalistik dari tingkat SMP di seluruh Ponorogo. SJA ke-4 dilaksanakan pada 18-19 Januari 2019 dengan 31 kelompok peserta. SJA selalu dibarengkan dengan SMGA Championship yang kali ini sudah delapan kali digelar.

“Berbeda dengan lomba jurnalistik umumnya, kami mengajak peserta untuk berkeliling di lingkungan SMA Negeri 3 dan memahami kondisinya kemudian mengaitkannya dengan tema yang kita sodorkan tema tahun ini adalah zerowaste yang sedang didengungkan di sekolah kami,” ungkap Nadif, Sabtu (19/1/2019).

Saat lomba, peserta melakukan peliputan di area SMA Negeri 3 dan kemudian menuangkannya dalam dua bentuk karya. Karya tersebut adalah fotografi dan naskah berita yang kali ini dipresentasikan dalam bentuk radionews. Para peserta mengutus salah satu wakilnya untuk menjadi newsanchor dan membawakan berita yang dipancarkan langsung melalui Radio SMAGAFM dan juga live streaming di channel youtube mereka.

“Tujuan lomba adalah sama-sama mengasah kemampuan. Dari kegiatan ini kita sama-sama mengedukasi peserta dan panitia tentang dunia jurnalistik,” ujarnya.

Edukasi ini didapatkan saat diadakan pembekalan kepada peserta oleh para profesional di bidang jurnalistik. Juga saat dilaksanakan ulasan naskah hasil lomba oleh juri yang menjadi penilai dalam kegiatan tersebut.

“Beberapa waktu ini kita selalu menggandeng PWI Ponorogo sebagia juri maupun mentor untuk terlibat dalam kegiatan ini karena mereka adalah para profesional di bidangnya,” kata Nadif.

Selain soal jurnalistik, lomba ini juga menjadi cara untuk menghadang adanya hoax yang marak di tengah masyarakat termasuk para pelajar. “Kalau mereka tahu proses mendapatkan sampai mengolah dan menyajikan berita itu tidak instan, tidak asal-asalan. Dan berita hoax tujuannya selalu tidak benar. Kita di sini juga punya gerakan ‘Guwak Hoax’ yang terus kita suarakan kepada masyarakat,” imbuhnya.

Nadif bersyukur, setiap tahun SJA selalu mendapat antusiasme yang tinggi dari para pegiat jurnalistik di tingkat SMP. Bahkan saat pendaftaran SJA 2019 baru dibuka, sudah banyak sekolah yang antre untuk menjadi peserta. (kominfo/dist)

  Umum
Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *